Pembangunan infrastruktur pada wilayah desa/pulau yang kita sebut sebagai hinterland tentunya dapat mengatasi kesenjangan pembangunan antara wilayah Kabupaten/Kota dalam hal ketersediaan infrastruktur darat berupa jalan dan jembatan serta infrastruktur laut baik berupa pelabuhan, dermaga dengan potensi yang dimiliki di desa/pulau tersebut.

Tentunya kita dapat merasakan perbedaan yang sangat mencolok antara desa atau pulau yang terpencil dan ibukota kabupaten khususnya di Bangka Belitung. Seperti dari aspek infrastruktur jalan yang termasuk kategori rusak berat. Perkembangan ekonomi di desa pun terlihat masih dalam kondisi yang tingkat pertumbuhan yang belum stabil.

Seharusnya desa-desa tersebut memiliki potensi tertentu seperti produk hasil pertanian, kelautan dan perikanan dan potensi yang lain yang dapat dikembangkan. Data menunjukkan seperti pada tahun 2022 produksi perikanan di Bangka Tengah pada tahun 2022 telah mencapai sebesar 32.376 ton dan Kabupaten Bangka Selatan mencapai 41.258 ton.

Ini merupakan salah satu bahwa daerah kepulauan memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan. Sebagai pusat pertumbuhan di Ibukota Kabupaten tentunya dapat dimaksimalkan potensi yang dimiliki desa tersebut. Seperti contoh, apa yang telah dilakukan kota Batam dalam menyediakan infrastruktur tersebut secara bertahap sehingga dapat mendorong pemanfaatan sumber daya alam yang ada di masing-masing pulau dan tumbuhnya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di Kota Batam.

Tentunya secara geografis kita tidak berbeda dengan Batam sebagai salah satu daerah kepulauan. Artinya tidak menutup kemungkinan bahwa potensi yang dimiliki pulau-pulau kecil yang memiliki potensi kelautan dan perikanan menjadi potensi besar untuk dikembangkan.

Artinya permasalahan mendasar kita adalah bahwa daerah-daerah pulau-pulau kecil kita tersebut masih belum terkoneksi melalui jalur darat seperti jembatan dan dermaga yang representatif. Jika ini dimaksimalkan maka tidak menutup kemungkinan besar terjadinya arus perdagangan barang yang bisa terhubung dengan daerah Kabupaten sebagai pusat pertumbuhan.

Menyikapi kondisi tersebut, maka kabupaten/kota mulai melakukan kajian komprehenship dalam menyikapi potensi ekonomi baru di daerah yang kita sebut sebagai daerah hinterland yang dimiliki kabupaten tersebut. Pembangunan daerah kepulauan mestinya dibangun terlebih dahulu melalui daerah pinggiran atau daerah belakang dari pusat pertumbuhan.

Artinya ekonomi daerah pertumbuhan bisa tumbuh dan terus meningkat melalui dukungan dan penyangga dari daerah pinggiran atau pulau-pulau kecil yang ada. Pertumbuhan daerah yang kita sebut hinterland tentunya dapat berpengaruh besar bagi kemajuan pusat pertumbuhan di Kabupaten/kota.

Pola pembangunan sekarang hendaknya mulai beralih membangun dari desa/pulau untuk menopang ekonomi  kabupaten/provinsi pada masa yang akan datang. Pola anggaran dan rencana pembagunan seharusnya mulai untuk fokus pada pembangunan desa/pulau-pulau kecil yang kita sebut sebagai hinterland! Semoga!

Dr. Darus Altin, SE, MMSI, Dosen Tetap Program Magister Manajemen FEB UBB