Menurut Devi, pertumbuhan ekonomi Babel di triwulan III 2023 masih ditopang oleh lapangan usaha (LU) Konstruksi, LU Pertanian, dan LU Industri Pengolahan. Sementara sektor yang melemah dari turunya harga timah, antara lain perdagangan besar dan eceran, sektor pariwisata, sektor industri pengolahan dan dapat melebar ke sektor konstruksi serta pertanian dan perikanan.

“Dari sisi permintaan, perekonomian Babel ditopang oleh seluruh komponen pengeluaran yang tumbuh positif, kecuali komponen ekspor dan impor. Ekspor utama babel adalah 60 persennya komoditas timah, maka terlihat ketika ekspor timah mengalami penurunan juga akan memberikan perlambatan pada pertumbuhan ekonomi,” jelasnya.

Untuk mengantisipasi agar perekonomian Babel tidak lagi bergantung dari komoditas timah, menurut Devi perlu adanya sumber pertumbuhan dari ekonomi baru yang memanfaatkan potensi alam lainnya, seperti sektor pariwisata.

Baca Juga  Dinilai Buat Kegaduhan, Pj Gubernur Suganda Batal Terima Penghargaan Pemimpin Tangguh

“Pilihan saat ini sektor pariwisata menjadi andalan untuk pengembangan ekonomi daerah selanjutnya, dengan menyandang status sebagai wilayah kepulauan maka pemanfaatan Blue Economu sangat dimungkinkan,” ujar Devi.

Potensi laut yang mendominasi 2/3 wilayah dapat menjadi modal utama pengembangan sektor pariwisata. Pemerintah Daerah perlu menggiring seluruh instansi ke arah pengembangan Blue Economy.

“Dengan pengembangan dan upaya optimal, maka Babel akan menjadi wilayah yang tidak hanya berbasis komoditas tambang, namun telah bertransformasi ke sektor pariwisata, dengan harapan kontribusi sektor pariwisata meningkat terhadap pembentukan ekonomi Babel,” tutupnya.* (Adv/Abrill)