“Tolonglah, pemerintah bantu, naikin harga timah, kita ikut menderita, takut juga banyak yang maling gegara ekonomi sulit,” ujarnya.

Senada, Ayu yang merupakan pelaku UMKM mengaku dagangannya semakin sepi, dampak dari perekonomian yang semakin sulit.

“Ekonomi sekarang nih benar-benar tidak stabil, biasa jualan saya tidak sepi seperti sekarang, bahkan suami saya saat ini nganggur,” tuturnya.

Ia mengungkapkan sang suami merupakan buruh harian yang biasa bekerja sebagai tukang, namun sekarang tidak ada yang mau bangun ataupun memperbaiki rumah.

“Biasa ada, tapi sekarang ekonomi susah, jadi sepi yang mau bangun rumah, kalau pun ingin memberhentikan pertambangan timah, harus ada gantinya buat masyarakat kita,” ujarnya.

Baca Juga  Gelar Buka Puasa Bersama, DPRD Bateng Santuni 150 Anak Yatim

Tak jauh berbeda, salah satu pekerja tukang asal Koba, Rohman juga merasakan dampak dari pengusutan kasus tata niaga timah di Babel.

“Waduh, susah benar saat ini cari kerjaan yang menguntungkan, mau jualan juga sepi, bahkan saya sudah sebulan menggangur,” tuturnya.

“Jangankan orang mau bangun rumah, untuk makan pun susah, tolonglah kasusnya cepat diselesaikan dan pemerintah bisa cari jalan keluarnya, agar Bangka Belitung, khususnya Bangka Tengah ekonominya kembali stabil,” tutupnya.