“Puncaknya kemarin itu kita ada demo karena harga lapak dinaikan dari 2 ribu jadi 7 ribu, yang ruko itu dari. Demo itu bukan saya sendiri, tapi yang lain juga. Akhirnya harga lapak turun jadi 4 ribu, kemudian terkait posisi lapak saya, itu belum jelas kan,” keluhnya.

“Kemudian saya datangi kantor bupati, kata orang-orang di sana, bupati tidak ada, banyak alasan, akhirnya kami pulang. Kemudian kami temui di rumah dinas, bupati tangannya sempat saya gandeng tangannya, oleh ajudannya ditarik, katanya bupati mau rapat,” ujar dia.

Babak Baru Diskriminasi

Meski sudah 20 tahun lamanya dagang di Pasar Mentok, hak dan aspirasi yang dikeluhkan Mak Rini tidak kunjung dia dapatkan. Mungkin karena biaya sewa lapak yang belum dibayar tadi, atau faktor ketersinggungan akibat kerasnya suara lantang yang ke luar sejauh ini.

Dugaan tersebut bisa saja benar, atau kurang tepat. Yang jelas, kata Mak Rini, dia sempat berdamai dan tidak lagi mempersoalkan saat ini berdagang di lapak belakang yang mengakibatkan sekitar 10 orang pelanggannya tidak lagi datang ke tempat usahanya.

Faktornya beragam. Mulai dari akses menuju lapak yang terlampau sulit, licin dan harus memutar karena adanya siring, beton dan polisi tidur yang telah dibangun di sudut, arah luar lapak. Bisa juga karena tidak terlihat oleh pembeli dan para pelanggan selama ini.

Baca Juga  Tiga Tahun Terakhir, Jumlah Ormas di Babar Terus Bertambah, Begini Penjelasan Safrizal

Lantaran posisi lapak Mak Rini, di arah belakang, tertutup oleh 2 tembok pada sisi tengah gedung yang menjulang tinggi. Bahkan tingginya melebihi lapak serta tubuh Mak Rini itu sendiri. Oleh karena itu, ia sempat mengusulkan agar tembok itu direndahkan saja.

“Jadi tempat kami itu posisinya sudah di belakang, dihalangi oleh tembok dua tinggi. Jadi orang gak kelihatan sama kami, saya sudah usul mintabuka saja sekat itu dan sekat yang lain, kata mereka janji waktu itu selesai rehab. Tapi sampai sekrang, tidak ada tindak lanjut,” keluhnya.

“Malah ditambah lagi di dekat soto itu palang melintang. Jadi kami pun sudah tidak jualan lagi batu es kulkas sudah dijual semua. Karena orang mau beli juga sudah tidak ada, ribet ke sini. Lalu palang polisi tidur tadi juga membuat kami sulit angkut barang ke gudang,” katanya.

Sebab, palang beton itu menutup jalan kendaraan yang biasanya bisa masuk ke depan gudang nomor 9, tempat Mak Rini menyimpan barang. Gudang ruko itu tetap dia bayar sewa Rp250 ribu. Hanya saja, kehadiran palang beton itu membuat motilitas terganggu.

Baca Juga  Gubernur Babel Salurkan Ribuan Paket Sembako untuk Masyarakat Babar

“Kalau kelapa datang harus bolak-balik Bapak ngangkat ke gudang dari pinggir jalan. Bapak selama aktivitas sudah 5 kali jatuh dan sudah 4 bulan tidak Salat Jumat karena cedera bagian tangan dan dengkul karena harus putar untuk beraktivitas di sekitar lapak,” bebernya.

“Mungkin saat melangkah jatuh setelah naik tembok beton biar lebih cepat. Kalau harus lewat pintu atau ruang ke dalam yang dibuat di sini, harus mutar. Ditambah lagi anak tangga dekat lapak sudah dibuka, jadi harus melangkah untuk naik ke atas bangunan,” ujarnya.

Tak hanya itu, listrik yang disiapkan di gedung tidak diperkenankan oleh tim Satpam Pasar Rakyat Mentok. Menurut Mak Rini, hal itu membuat dirinya sempat marah lantaran pedagang lain diperbolehkan sedangkan dia tidak dengan alasan menyedot pulsa listrik.

“Kami kan buka jam 04.00 itu, bapak di lapak sudah mau kupas kelapa. Saat kami mau pakai lampu, katanya habisin listrik dan dimatiin satpam. Sementara yang lain dihidupkan semua, alasan dia makan pulsa. Kalau gini kan susah bapak kupas kelapa,” ungkapnya.

Baca Juga  Manfaatkan Lahan Kosong, Warga Binaan Rutan Mentok Berhasil Panen Sawi

“Bapak terpaksa pelan-pelan kupas itu kelapa dari pada kena tangan atau jari. Sementara kami sudah tua dan orang lama. Kami sempat usul jualan di arah luar, tapi kata Ibu Sinta tidak boleh. Jadi kami jualan di dalam, orang tidak kelihatan, padahal sudah 10 tahun saya jualan lontong,” katanya.

Dia awalnya menerima kebijakan itu. Di lapangan, fakta yang terjadi berbeda. Beberapa pedagang terlihat banyak yang membuka usaha dagangannya di pinggir jalan. Selain itu, dia menyoroti pula kinerja Satpam yang ditugaskan oleh pemerintah daerah.

Pasalnya, kinerja tim keamanan seperti tidak ada sama sekali dalam membuat lingkungan pasar aman. Sebab, beberapa pekan lalu, 2 karung barang pokok jenis bawang miliknya hilang di atas lapak. Satpam, dia bilang terkesan makan gaji buta selama ini.

“Dia nongkrongnya di dekat pasar ikan main catur dan orang tidak tahu kalau dua karung bawang hilang tadi tetap saya bayar kepada tempat saya ambil 1 juta lebih. Untung Bapak orangnya penyabar dan saya akui, Ibu orangnya agak cerewet kalau dikasih janji tapi tidak ditepati,” jelasnya.