7 Tips Move On dari Patah Hati, Yuk Dicoba
4. Lakukan social media detox untuk hindari mantan
Salah satu godaan terbesar setelah putus adalah mengetahui keadaan mantan lewat media sosial. Biasanya, hal ini akan membuatmu mengingat perasaan negatif dan memperlambat proses move on.
Oleh karena itu, kamu bisa mencoba social media detox untuk menghindari apa pun yang mengingatkanmu kepada mantan.
5. Jalani perawatan diri
Walaupun kamu sedang patah hati, kamu tetap perlu merawat kesehatan dirimu, ya. Sesekali mengonsumsi makanan enak atau favoritmu boleh-boleh saja, tetapi pastikan tidak berlebihan.
Jangan lupa pula untuk rutin berolahraga dan tidur yang cukup. Selain itu, mulai rutin menggunakan skincare juga bisa kamu lakukan.
6. Habiskan waktu bersama orang terdekat
Curhat dengan keluarga atau teman dapat menghilangkan rasa kesepian setelah patah hati. Jika kamu ingin mencurahkan keluh kesah, kamu bisa mencoba untuk curhat kepada anggota keluarga atau sahabat yang dipercaya, atau berkonsultasi dengan psikolog jika kamu merasa tidak nyaman berbagi cerita dengan orang sekitar.
7. Cari kesibukan lain
Putus cinta artinya kamu tidak perlu lagi membagi pikiran untuk memperhatikan orang lain dan kamu pun tidak perlu untuk selalu mengabari pasangan tentang segala hal yang kamu lakukan.
Dengan begitu, kamu bisa mulai fokus pada kebutuhanmu. Mulailah dengan cara menekuni kembali hobi atau mencari kemampuan baru. Misalnya, ambil kursus bahasa asing, belajar gitar atau merajut, dan kunjungi tempat-tempat baru.
Itulah berbagai cara untuk membangkitkan suasana hatimu kembali setelah patah hati. Ingat, setiap orang punya waktu dan cara pemulihan yang berbeda-beda. Jadi, kamu tidak perlu berkecil hati bila tidak bisa langsung move on.
Rasa sedih setelah patah hati memang suatu hal yang umum dirasakan. Namun, jika perasaan itu tak kunjung mereda dan justru membuat suasana hatimu selalu buruk, konsentrasi menurun, tidak berminat melakukan aktivitas apa pun, tidak mau makan, bahkan mencoba bunuh diri, maka segeralah meminta pertolongan ke psikolog.(Dilansir dari Alodokter.com)
