Menjaga Lisan
Kita akan sampaikan disini beberapa riwayat yang berkaitan dengan حِفْظُ اللِّسَانِ (menjaga lisan), khususnya di bulan Ramadhan saat kita sedang menunaikan ibadah puasa. Di antara sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
إِذَا أَصْبَحَ أَحَدُكُمْ يَوْمًا صَائِمًا فَلا يَرْفُثْ ، وَلا يَجْهَلْ ، فَإِنْ امْرُؤٌ شَاتَمَهُ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ إِنِّي صَائِمٌ
“Barangsiapa salah satu di antara kalian di pagi hari dalam kondisi berpuasa, maka jangan berkata jorok dan jangan bersikap bodoh. Kalau ada seseorang yang menghardiknya atau menghinanya maka katakan kepadanya, sesungguhnya saya sedang puasa, sesungguhnya saya sedang puasa.” (HR. Muslim)
Penjelasan:
Apabila seorang sedang berpuasa pada harinya, jangan berbuat rofats (segala ungkapan yang berkaitan dengan pornografi, yang membangkitkan syahwat, ungkapan-ungkapan yang menunjukkan tentang unsur pornografi), dan jangan pula berbuat bodoh baik dalam omongan maupun perbuatan-perbuatan yang menunjukkan kebodohan dia yang tidak tahu ilmu tentang agama, yakni perbuatan-perbuatan jelek, buruk, yang bertentangan dengan agama. Kalau ada orang yang mencacinya atau mengajak berkelahi, katakanlah, “aku puasa, aku puasa.
Para ulama menerangkan kepada kita bahwa kalimat إِنِّي صَائِمٌ yaitu orang menegaskan kepada dirinya bahwa dia sedang berpuasa dan tidak melayani segala ajakan-ajakan buruk, ajakan-ajakan jelek, tidak akan ngomong yang buruk, tidak akan melakukan perbuatan yang jelek, dia tidak akan terprovokasi, dia sedang puasa. Sehingga dia mengatakan, “Saya sedang puasa, saya tidak boleh melakukan perbuatan yang bodoh.”
Umar Radhiyallahu ‘Anhu, beliau mengatakan:
ليس الصيام من الطعام والشراب وحده ولكنه من الكذب والباطل واللغو والحلف
“Puasa bukan semata-mata hanya meninggalkan makan dan minum. Akan tetapi puasa itu harus meninggalkan dusta, meninggalkan perbuatan sia-sia, kebatilan-kebatilan”
Pada waktu puasa, hal ini harus lebih ditinggalkan. Dusta, kebatilan, perbuatan lagwu, diluar Ramadhan wajib kita tinggalkan. Tapi di bulan Ramadhan, penekanannya lebih lagi. Sebagaimana Allah ketika bicara masalah haji.
فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ
“Jangan rofats, jangan fusuq, jangan jidal didalam masa mengerjakan haji” (QS. Al-Baqarah[2]: 197)
Di luar haji, hal ini sudah tidak diperbolehkan. Tapi dalam haji, lebih ditekankan lagi. Demikian juga ketika dikatakan untuk meninggalkan dusta, kebatilan, perbuatan lagwu dan sebagainya itu, ini semuanya di luar Ramadhan sudah tidak diperbolehkan. Tapi ketika Ramadhan, ketika sedang berpuasa, ini hendaknya lebih ditinggalkan lagi.
Demikian pula Ali bin Abi Thalib, beliau mengatakan:
أن الصيام ليس من الطعام والشراب ولكن من الكذب والباطل واللغو
“Sesungguhnya puasa itu bukan hanya dengan meninggalkan makan dan minum semata akan tetapi puasa itu dengan meninggalkan kebatilan dan kesia-siaan”
Oleh karena itulah Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘Anhuma -semoga Allah meridhai dia dan ayahnya- beliau mengatakan:
إذا صمت فليصم سمعك وبصرك ولسانك عن الكذب والمآثم ودع أذى الخادم وليكن عليك وقار وسكينة يوم صيامك ولا تجعل يوم فطرك ويوم صيامك سواء .
Apabila kamu sedang berpuasa, hendaklah berpuasa pula pendengaran, penglihatan, dan lisan. Berpuasa dari perbuatan-perbuatan dusta. Sehingga waktu kita berpuasa bukan sekedar meninggalkan makan dan minum.
Tapi hendaknya dia puasakan dari memandang segala hal yang haram, telinga dia hendaknya dia puasakan dari mendengarkan segala hal yang haram. Demikian pula lisan dia, dia betul-betul tahan, jangan mengucapkan kalimat-kalimat yang haram.
Dan iapun berpesan untuk meninggalkan pula perbuatan menyakiti pembantu, menyakiti tetangga, jadikan diri kita menjadi lebih berwibawa di waktu puasa.
Sehingga kita tampil tenang, berwibawa dengan banyak diam, banyak meninggalkan dosa, karena kewibawaan itu di antaranya dengan cara demikian.
Dan beliau katakan, “Jangan kamu samakan antara hari ketika Anda berpuasa dengan hari Anda berbuka.” Jadikan hari berpuasa Anda betul-betul lebih menampakan kehebatan Anda sebagai orang yang berwibawa, meninggalkan yang haram, diam dari segala perbuatan yang tidak bermanfaat.
Demikian wasiat para Salaf kita, dan tentu masih sangat banyak. Oleh karena itulah mudah-mudahan Allah memudahkan kita di bulan Ramadan dengan menjaga lisan kita.
Inilah faktor yang bisa menjadikan puasa kita rusak karena tidak meninggalkan perbuatan-perbuatan yang sia-sia dan haram berkaitan dengan lidah dan lisan kita.
Wulan, S.Pd Fasilitator SDIT Alam Cahaya, Toboali, Bangka Selatan
