Melihat suaminya pulang hanya dengan tangan hampa. Menangis tersedu-sedulah Fatimah, yang langsung bertanya kenapa suaminya pulang tanpa membawa makanan sedikit pun. Dan jujurlah Ali kalau uangnya diberikan kepada seseorang yang membutuhkan dan perlu utang ketika perjalanan tadi. Usai menjelaskan kepada istrinya, Ali izin untuk berkunjung ke rumah Rasulullah.

Di tengah perjalanan, bertemulah Ali dengan orang Arab dusun (A’rabi) yang tengah menuntun seekor unta untuk dijual, dan kemudian ditawarkan kepada Ali dengan harga 100 dirham.

“Wahai Ali, tolong belilah unta saya ini dengan harga 100 dirham,” ucap orang Arab dusun itu.

Sayidina Ali pun kemudian berterus terang jika dirinya tidak membawa uang sepeserpun. Mendengar hal itu, A’rabi itu menawarkan agar Ali bisa membeli untanya dengan pembayaran tempo. Disetujuilah tawaran itu, hingga akhirnya unta bisa dibawa Sayidina Ali yang hendak membawanya ke rumah. Di tengah jalan, tiba-tiba Ali bertemu seseorang yang menawar unta yang dibawanya.

Baca Juga  5 Alasan Sah Dalam Islam Untuk Tidak Berpuasa Di Bulan Ramadhan

Berkatalah orang itu: “Wahai Ali, berapakah ingin kau jual unta yang kau bawa,” ujarnya.

Dengan tanpa ragu, Sayidina Ali menjawab bahwa untanya akan dijual seharga 300 dirham dan tanpa banyak tawar-menawar orang itu langsung memberikan uang 300 dirham secara tunai. Bergembiralah Ali mendapat keuntungan yang berlipat, dan langsung memberikan 100 dirham kepada A’rabi pemilik unta awal, dan sisanya dibawa pulang dan disampaikan kepada Fatimah.

Kepada istrinya, Sayidina Ali pun menceritakan bagaimana kisah bisa mendapatkan uang 200 dirham. Mendengar kisahnya, Fatimah pun berbinar-binar dan berucap: “Engkau telah mendapatkan Taufiq,” atau pertolongan dari keikhlasan bersedekah 6 dirham karena Allah.

Inilah sekilas pengalaman Sayidina Ali karena ketulusan dan keikhlasannya dalam bersedekah. (Dilansir dari Kemenag.go.id)