Di sisi lain juga, ada perbincangan bahwa kecerdasan buatan bisa membuat manusia selalu merasa ketergantungan terhadap AI sehingga bisa membuat manusia terkadang menjadi malas untuk berpikir dan berusaha mencari ide kreatif untuk pekerjaan mereka karena selalu ketergantungan terhadap AI tersebut sehingga AI seolah-olah menggantikan pekerjaan manusia.

Pekerjaan yang terutamanya berbasis rutinitas dan prosedur. Hal ini bisa mengakibatkan pengangguran serta ketidakstabilan ekonomi jika transisi ke pekerjaan baru tidak dikelola dengan benar.

Selain itu, terdapat kekhawatiran tentang masalah privasi mengenai penggunaan AI jikalau data ini jatuh ke tangan yang salah, data ini bisa disalahgunakan untuk pencurian identitas, penipuan, serta potensi penyalahgunaan teknologi tersebut seperti sistem AI bisa dimanipulasi atau dirusak si peretas untuk mengakses informasi/merusak infrastruktur sistem.

Baca Juga  Teknologi dan Literasi Digital: dalam Upaya Mengatasi Kesenjangan Pendidikan di Daerah Terpencil

Oleh sebab itu, bukanlah pertanyaan apakah kecerdasan buatan akan menggantikan pekerjaan manusia, namun bagaimana kita sebagai manusia bisa memastikan bahwa pergantian ini berjalan sehalus mungkin.

Berkemungkinan memberikan pelatihan dan pendidikan tepat sasaran untuk pekerjaan masa depan, serta memastikan bahwa ada jaring pengaman sosial untuk mereka yang pekerjaannya terpengaruh oleh Artificial Intelligence.

Namun, sangat penting untuk dipahami walaupun Artificial Intelligence mempunyai banyak kelebihan, mereka tidak bisa sepenuhnya menggantikan manusia.

Ada beberapa aspek yang masih membutuhkan sentuhan manusia, misalnya empati, kreativitas, dan intuisi. Jadi, idealnya AI dan manusia harus bekerja sama untuk meraih hasil yang terbaik.

Kesimpulan yang dapat diambil terkait Artificial Intelligence terhadap manusia ialah AI dan manusia mempunyai Kelebihannya tersendiri. AI itu harus sebagai alat bantu, bukan sebagai alat pengganti.

Baca Juga  Ketika Perundungan Menghilangkan Nyawa: Potret Kegagalan Sosial

Meskipun AI mempunyai banyak kelebihan, mereka tidak bisa sepenuhnya menggantikan manusia. AI seharusnya dipergunakan sebagai alat bantu untuk memajukan produktivitas dan efisiensi kerja manusia, bukan sebagai pengganti manusia.

Dengan berkembangnya AI, penting bagi kita sebagai umat manusia untuk mempunyai regulasi serta etika yang jelas tentang penggunaan AI untuk memastikan bahwa AI dipergunakan untuk kebaikan serta tidak disalahgunakan untuk hal-hal yang tidak perlu/senonoh.

Dalam pandangan umum, AI mempunyai potensi yang besar untuk menolong manusia dalam berbagai bidang. Tetapi, manusia juga harus sadar akan batasan serta tantangan yang ada dalam hidupnya.

Fayiz Dega Adriansah, Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Bangka Belitung