Di game kedua, tensi pertarungan Ginting vs Jojo tetap tinggi. Namun, Jojo yang sudah di atas angin, akhirnya berhasil menutup pertandingan di game kedua dengan skor 21-14. Jojo keluar sebagai pemenang.

“Saya tahu persis bagaimana perjuangan para pemain tunggal putra. Saya tahu bagaimana kami semua berusaha. Jadi trofi ini untuk mereka. Juga untuk tim pelatih,” kata Jojo usai pertandingan.

Bagi Jojo ini sekaligus adalah gelar Super 1000 yang pertama. Ia mengatakan tidak menyangka akhirnya bisa menjadi juara All England. “Saya masih ingat, dulu melihat para pemain memegang trofi juara, hari ini saya tahu rasanya menjadi juara,” kata Jonatan.

Sebelum Jojo, gelar juara di sektor ini diraih oleh Hariyanto Arbi, yang pada 1994 mengalahkan sesama pebulutangkis Indonesia, Ardy Wiranata. Laga tersebut menjadi salah satu pertandingan klasik final All England.

Baca Juga  Tangis Haru Putra Papua Chico Aura Berhasil Jadi Runner-up Daihatsu Indonesia Masters 2023

Sementara itu, Ginting yang meraih peringkat kedua menyampaikan selamat kepada Jojo. Ginting mengakui, dalam laga final ini, dirinya tidak terlalu prima. Pebulutangkis peringkat kelima dunia ini mengakui staminanya terkuras habis pada dua laga sebelumnya. Yakni saat berhadapan dengan Viktor Axelxen di babak perempat final dan Christo Popov di babak semifinal.

“Faktor itu cukup berpengaruh. Tetapi lagi-lagi (rezeki) sudah ada yang mengatur. Mungkin sudah jadi jalannya Jonatan. Saya bersyukur Jonatan bisa mengukir sejarah,” kata Ginting.(***)