Menjaga Amalan di Awal Ramadan
Pada puncak nya, akhir Ramadan adalah pembebasan dari api neraka. Tidak ada musibah yang lebih mengerikan melebihi kalau orang itu masuk ke dalam neraka.
Kalaupun musibah di dunia ini, mulai zamannya Nabi Adam sampai hari kiamat, dikumpulkan menjadi satu, maka tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan musibah masuk ke dalam neraka.
Salah satu penyelamat dari neraka adalah menjaga amalan di akhir Ramadan. Nah, mumpung Ramadan ini masih ada, maka jangan kita tunda-tunda.
Karena sudah menjadi fitrah manusia kalau awal Ramadan sungguh-sungguh, maka di pertengahan Ramadan akan mudah untuk sungguh-sungguh.
Di akhir Ramadan, diaakan panen. Kalau di awal Ramadhan kita lemah, maka kelemahan itu akan menjadi sifat kita. Dengan begitu, di pertengahan Ramadan tambah lembek. Kemudian, di akhir Ramadan tinggal ruginya saja.
Jangan kita sia siakan setiap detik di bulan Ramadan ini untuk ibadah, untuk doa, membaca Al Quran, sedekah dan infaq.
Bulan Ramadan ini bukanlah waktunya kita mengumpulkan harta, tetapi waktunya kita mengeluarkan harta. Karena waktu Ramadan ini pahala sedekah ini dilipat-gandakan. Awal Ramadhan ini bukan waktunya kita bermalas-malasan.
Sebaliknya, waktunya kita habis habisan untuk beramal. Setiap amalan akan dilipat-gandakan sampai berlipat-lipat.
Dulu kyai saya almarhum K.H Uzairon Thoifuri Abdillah Rohimahullah beliau mengatakan, “Bulan Ramadan ini di ibaratkan seperti pasar. Kalau orang pergi ke pasar membawa uang, membeli barang yang ada di sana, maka dia akan mendapatkan banyak bekal, tetapi kalau orang datang ke pasar tidak bawa apa-apa dan lihat-lihat saja, maka dia tidak akan mendapatkan apa-apa.”
Begitulah Ramadhan, kalau orang itu beramal sungguh-sungguh di Ramadan maka dia akan mendapatkan pahala, tetapi kalau orang bermalas-malasan di Ramadan ini maka dia tidak akan mendapatkan apa-apa, bahkan dia sangat rugi.
Kita di dunia ini tidak lama, tahu tahu Ramadan sudah hampir habis. Nanti, tanpa terasa juga, umur kita tahu tahu sudah hampir habis. Sedangkan kita belum beramal apa-apa. Belum membangun akhirat kita dengan sungguh-sungguh. Belum bertaubat kepada Allah Swt. Maka, bagaimana nasib kita di akhirat kelak ketika menghadap kepada Allah Swt.
Ramadhan ini adalah bulan yang sesuai untuk kita menyuci diri, taubat kepada Allah Swt karena “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang taubat.” (Q.S. Al-Baqarah 222)
Ustaz Dirga Selastian, guru Al Quran SDIT Alam Cahaya, Toboali, Bangka Selatan
