Mereka akan terus bertahan dengan penuh ketabahan dan kesabaran, meskipun menemui berbagai kesulitan. Mereka bertahan dengan makanan yang sangat sederhana bahkan mungkin hanya memakan akar pohon-pohonan, mereka akan tetap membela kebenaran dan menegakkan kalimat Allah.

Kelompok ini mencintai kehidupan yang terhormat dan mulia di sisi Allah ataupun dalam pandangan umat manusia pada umumnya. Mereka rela mengorbankan apa saja yang dimilikinya demi tegaknya kemuliaan dan keadilaan.

Ciri golongan ini, selalu ditandai dengan sikap dan perilaku mereka yang lebih mencintai kebenaran yang datangnya dari Allah dan Rasul-Nya, daripada cintanya terhadap harta, keluarga, anak-anaknya, bahkan dari dirinya sendiri.

Kelompok kedua ini akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat, mendapat kemuliaan yang tinggi di sisi Allah dan di mata umat manusia. Slogan mereka yang sering dikumandangkan adalah: “Hidup mulia atau mati syahid”.

Baca Juga  Pawai Obor Meriahkan Malam Takbiran Menyambut Idulfitri 1444 H di Simpang Rimba

Mereka diisyaratkan dalam al-Qur’an: “Di antara orang-orang mu’min itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu (apa yang telah Allah janjikan), dan mereka sedikitpun tidak merubah (janjinya)”. (QS. Al-Ahzab, 33:23).

Ibadah puasa Ramadhan akan mengarahkan diri kita, terbentuk menjadi manusia-manusia mu’min yang senantiasa mencintai kebenaran dan kesucian jiwa. Kita dibimbing agar lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya, daripada cinta kita kepada segala sesuatu termasuk keluarga, istri dan anak-anak kita, bahkan terhadap diri sendiri. Perhatikan firman Allah: “Katakanlah sekiranya bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan keru¬giannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang fasik”. (QS. al-Taubah, 9:24).

Baca Juga  3 Tingkatan Ikhlas menurut Syekh Nawawi Al-Bantani

(Dilansir dari jabar.nu.or.id)