BANGKA TENGAH, TIMELINES.ID – Puasa bukan menjadi halangan untuk tetap bekerja dan beraktivitas meski pekerjaan tersebut mengandalkan kekuatan fisik  seperti kuli angkut, tukang bangunan, buruh tani dan lainnya.

Hal ini berlaku bagi Jupri (50), seorang tukang bangunan asal Kabupaten Bangka Tengah (Bateng). Puasa di bulan Ramadan tak membuat semangatnya  bekerja untuk mencari nafkah menjadi kendor.

Biasanya, setelah sahur dan menjalankan ibadah salat subuh di masjid, Jupri mulai berangkat bekerja sekira pukul 07.00 Wib dan pulang pukul 16.30 Wib.

“Kerjanya dari pagi, sekitar jam tujuh, terus pulang jam setengah lima, kalau hari biasa, pulangnya jam lima, tapi kita kan mau bersih-bersih mandi untuk persiapan solat ashar dan berbuka puasa, jadi pulang lebih awal,” ujar Jupri kepada wartawan, Kamis (4/4/2024).

Baca Juga  Puasa dan Kehormatan Jiwa

Menurut Jupri, ia sudah bekerja sebagai tukang bangunan kurang lebih 20 tahun, bahkan sudah ada banyak rumah, sekolah hingga musala yang ia bangun.

“Sudah lama sekitar 20 tahun, tidak langsung jadi tukang, dulu jadi kenek dulu, baru belajar bangun pondasi, melaster dinding, masang jendela dan lain-lain, mungkin sudah ada ratusan rumah yang dibangun, kalau yang diperbaiki sudah tidak terhitung lagi,” terangnya.

“Dulu itu sempat jadi nelayan, tapi jaringnya hilang diambil perompak, di tengah keputuasaan itu saya ganti pekerjaan belajar jadi tukang, apalagi punya anak dan istri yang harus dibiayai,” tambahnya.

Menurut Jupri, ia memang selalu istiqomah untuk menjalankan ibadah puasa, walaupun bercucuran keringat dan menguras energi.

Baca Juga  Safari Ramadan di Desa Kundi, Wabup Serap Aspirasi hingga Salurkan Bantuan

“Kalau ditanya panas, pastinya luar biasa, apalagi ini di Bangka Belitung, leteh apalagi, tapi semua saya niatkan untuk ibadah, alhamdulillah tidak pernah batal,” ujarnya.