Kepulauan Bangka Belitung dapat dijadikan contoh sebagai pulau pewaris nilai persatuan bangsa tanpa prasangka.

“Pluralisme terjadi di Bangka Belitung karena azas adatnya berdasarkan wilayah teritorial tempat tinggal yang terbuka terhadap pengaruh pengaruh budaya yang datang dari luar. Masyarakat Kepulauan Bangka Belitung menerima pengaruh dari luar dengan baik selama pengaruh tersebut tidak merusak dan mengubah tatanan adat istiadat budaya setempat,” bebernya.

Ditambahkan Akhmad Elvian, masyarakat Bangka Belitung sangat ramah dan memiliki sikap toleransi serta menjadi tuan rumah yang adil. Tetapi jika terdesak, atau disakiti, atau negerinya dirusak, orang Bangka sangat melawan dan bisa mengamuk.

Karateristik orang Bangka sedikit tergambar dari pernyataan M.H. Court, residen Inggris untuk Palembang dan Bangka tentang orang darat atau orang gunung penghuni kampung-kampung dan batin di pulau Bangka, didiskripsikan: “The character of the Orang Goonoongs, or natives of Banca, may be expressed in a few Words. They are an honest, simple, tractable, and obedient people; in personal appearance much more attractive than the same description of people at Palembang” (Court, 1821:214)

Baca Juga  Jadi Pelanggan VIP, PLN Perkuat Distribusi Listrik ke Perkantoran Pemprov Babel

“Karakter orang Goonoongs atau penduduk asli pulau Bangka, dapat diekspresikan dalam beberapa kata. Mereka adalah orang yang jujur, sederhana, penurut, dan patuh; dalam penampilan pribadi jauh lebih menarik daripada orang yang sama di Palembang.
Keterbukaan struktur masyarakat Bangka dan kebudayaannya sangat memungkinkan untuk mengakomodasi perubahan-perubahan kebudayaan dan penyerapan unsur-unsur kebudayaan yang berbeda-beda, sepanjang perubahan dan penyerapan tersebut tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip adat istiadat dan sopan santun,” ujar Akhmad Elvian.

Sikap terbuka masyarakat Bangka menerima orang-orang yang datang dari luar pulau, juga terjadi dalam konteks percampuran atau asimilasi budaya hingga pada tingkat perkawinan campuran antar suku bangsa.

Kekentalan darah karena faktor perkawinan campuran antar suku bangsa di Bangka Belitung memperkuat sikap toleransi yang tinggi dan membentuk pluralisme.

Baca Juga  Hadapi Lebaran Idul Fitri 2023, Forkopimda Babel Gelar Rakor Lintas Sektoral

“Toleransi dan pluralisme di Bangka Belitung dapat terjaga dan dirawat dengan baik karena proses asimilasi dan akulturasi budaya yang melahirkan kearifan kearifan serta tampilan tampilan budaya yang unggul yang melahirkan nilai nilai kebaikan dan keberagaman di masyarakat terus dipertahankan dan dilestarikan hingga sekarang,” tutup Akhmad Elvian.