Ia, dalam hal ini tak akan menawarkan janji manis kepada masyarakat. Bagi Masrura, yang dibutuhkan masyarakat adalah kerja nyata agar kesejahteraan dan taraf perekonomian betul-betul meningkatkan serta dirasakan. Dengan begitu, daerah akan semakin membaik.

Saat disinggung isu perempuan masih suatu hal yang tabu di masyarakat ketika menjadi pemimpin, Masrura nilai ini adalah suatu hal yang kuno. Isu gender disebutkan Masrura sudah tak relevan untuk dipertentangkan. Lagi pula, yang jadi pemimpin itu ada dua.

“Jadi begini, yang jadi pemimpin bukan hanya saya, ada wakil, tentu wakil tidak hanya perempuan dong, laki-laki kan, nah kita back-up. Makanya kita tidak kerja sendiri, kalau perempuan tidak bisa jadi imam, kan ada pak wakil bupati,” ungkap Masrura.

Baca Juga  Pengurus Masjid Baitul Hikmah Mentok Potong 7 Ekor Hewan Kurban

“Wakil bupati yang jadi imam kalau ada yang bertanya. Menurut saya, isu gender itu sudah kuno kalau dipertentangkan, betul gak, kasih kesempatan ke perempuan-perempuan untuk maju, karena perempuan punya potensi untuk bawa perubahan,” ujarnya.

Dia juga mengingatkan apabila pemilih juga dihuni oleh perempuan dan sesama perempuan pula yang dapat saling mengerti. Maka dari itu, ketika kebutuhan perempuan bisa dipenuhi, bukan tidak mungkin pemilih dari kalangan perempuan akan dia peroleh.

“Jadi kita tidak berbicara laki-laki atau perempuan tapi kita bicara seluruh masyarakat untuk sama-sama bangun daerah dan mensejahterakan masyarakat. Sebagai bupati juga kita tidak boleh anti kritik, kita digaji rakyat dan rakyat boleh mempertanyakan kinerja kita,” jelasnya.

Baca Juga  Aksi Kericuhan Warnai Laga Babar Vs Belitung