Ia juga menyebut latar belakang menggarap Film 212, The Power of Love karena ada sesuatu hal menarik yang harus diungkap melalui film ini.

“Saya melihat sisi yang berbeda dari aksi 212 itu sehingga saya garap menjadi sebuah film,” tambah Jastis.

Begitu juga dengan film dokumenter Kepala Sekolahku Pemulung.

“Film dokumenter itu bukan objektivitas tetapi subjektivitas. Tidak harus ada perimbangan seperti karya jurnalistik. Film ini menceritakan seorang kepala sekolah yang juga menyambi sebagai pemulung. Di sisi lain anggaran pendidikan kita 20 persen dari APBN, saya melihatnya secara subyektif dan tidak perlu dijawab pemerintah melalui film ini. Biarkanlah Kementrian Pendidikan menjawab melalui media yang berbeda,” tambahnya.

Baca Juga  PWI Basel Gandeng Baznas Salurkan Puluhan Paket Sembako

Founder Serumpun Inspirasi Babel, Endra Gunawan mengatakan ada inspirasi baru yang muncul setelah menonton salah satu karya Jastis Arimba.

Seperti Film Hayya yang akan mampu mengetuk hati penontonya untuk ikut bersama berjuang bersama rakyat Palestina.

“Mengapa ada infaq terbaik karena ini sebagian akan disalurkan kepada saudara kita di Palestina,” kata Endra yang juga sebagai Manajer Kasih Palestina Babel ini.

Menurutnya, momen ini adalah permulaan yang baik untuk mengembangkan literasi di Bangka Selatan.

“Nanti coba kita rencanakan untuk menggelar seminar public speaking bersama PWI Basel dengan menghadirkan pembicara nasional,” tambah pria yang biasa disapa Bang Een ini.

Kepala Dinas Sosial Basel, Sumindar yang mewakili bupati mengapresiasi workshop kepenulisan yang digelar Serumpun Inspirasi dan PWI Basel.

Baca Juga  Peringati HPN dan HUT ke-23 Bangka Selatan, Penulis Lokal Siap Luncurkan 23 Buku

Pria yang biasa disapa Cak Min ini mengajak seluruh peserta untuk terus mengembangkan gerakan literasi di Bangka Selatan.

“Kami mengapresiasi kegiatan Serumpun Inspirasi Babel dan PWI Basel yang mendukung gerakan literasi di Basel, dengan literasi akan menciptakan SDM yang bekualitas,” tutupnya.