Rakyat menjerit. Jalanan banyak rusak. Tata kelola pendidikan tidak sesuai dengan cita-cita KH. Dewantara. Ekonomi masyarakat menurun. Daya beli rakyat menurun dengan tajam. Indeks pembangunan rendah.

Mengemban amanah sebagai kepala daerah bukan untuk gagah-gagahan. Bukan untuk prestise. Bukan untuk kepentingan pribadi, keluarga dan kelompok. Bukan sama sekali.

Ada tanggung jawab moral. Ada tanggung jawab sosial yang diembannya dalam kapasitas sebagai pemimpin masyarakat.

Sebagai kepala daerah, banyak pelajaran yang dapat kita petik dari para tokoh-tokoh besar bangsa Indonesia tentang memperlakukan tugas suci sebagai pemimpin.

Bung Hatta contoh kongkret pemimpin yang memperlakukan amanah dengan mulia.

Tidak memanfaatkan jabatan sebagai alat untuk memperkaya diri dan keluarga.

Baca Juga  Sentra Gakkumdu Basel Bahas Potensi Pelanggaran Tahapan DPTb

Dalam buku ”Untuk Republik: Kisah-Kisah Teladan Kesederhanaan Tokoh Bangsa” diceritakan tentang kesederhanaan dan kejujuran Wakil Presiden RI yang pertama.

Bung Hatta adalah contoh bagaimana seorang pejabat menjalankan kehidupan yang jujur. Bagaimana seorang manusia Indonesia membaktikan hidup pada negara yang dicintainya.

Hatta teliti sekali dalam menggunakan uang, ia hanya menggunakan uang yang memang hak-nya. Dia tidak mau menggunakan mobil dinasnya untuk keluarga.

Dia tidak mau menggunakan uang negara untuk kepentingan keluarganya dan pribadinya. Uang negara yang dianggarkan untuknya untuk kelancaran pekerjaannya.

Proklamator yang juga Wapres pertama RI Mohamad Hatta atau Bung Hatta memiliki jiwa keteladanan yang harusnya ditiru oleh para pejabat negara dan para pemimpin daerah saat ini.

Baca Juga  Manfaat Puasa Ramadan dalam Psikologi Islam

Sudah saatnya sebagai penguasa negeri ini, kita sebagai rakyat melahirkan pemimpin sekelas Bung Hatta saat Pilkada serentak November nanti.

Yo kite joged.

Toboali, Rabu 8 Mei 2024.