“Memang terjadi penumpukan penumpukan akibat antrean cukup panjang. Sebab itu kualitas buah juga menjadi menurun akibat coba antrean daripada truk yang hendak masuk ke pabrik,” jelas Risvandika.

Di sisi lain sambung dia, idealnya TBS yang dipanen setiap hari harus masuk ke pabrik pada hari itu juga jika ingin harga beli  tetap stabil. Apabila sudah menginap berhari-hari turut berpengaruh kepada asam lemaknya yang tinggi. Selain itu kualitas Crude Palm Oil alias CPO ikut turun.  Belum lagi operasional PKS berpotensi berdampak pada mesin-mesin perusahan yang bekerja terus menerus.

Bisa berpotensi terjadi kerusakan lantaran beban kerja mesin yang terlalu berat. Lebih jauh juga dapat terjadi pembengkakan biaya operasional pengangkutan bagi para pengepul buah sawit. Maka dari itu, perlu adanya tindak lanjut ke depan supaya perekonomian masyarakat tidak kolaps.

Baca Juga  Kapolres Bangka Selatan Pimpin Gerakan Aksi Bersih Nasional 2026 di Pantai Nek Aji Toboali

“Dampaknya memang luar biasa bagi petani kita yang biasanya yang mengirim hasil panen sawit ke sana dan harus mencari tempat lokasi pabrik di tempat lain,” ucapnya.

Kendati begitu kata Risvandika, sejauh ini belum ada laporan tertulis ihwal kerugian dari para petani. Hanya saja mereka telah menyampaikan melalui lisan kepada pemerintah. Saat ini sejumlah PKS baru juga sudah mulai beroperasi di Desa Jeriji, Kecamatan Toboali. Setidaknya bisa mengurangi penumpukan buah yang terjadi di beberapa pabrik lainnya.

“Pada prinsipnya kita masih berharap kalau bisa pabrik yang diblokir itu bisa berjalan seperti biasanya. Sehingga arus buah itu bisa berjalan seperti pada umumnya dan tidak terganggu dari aktivitas lain,” pungkas Risvandika.

Baca Juga  Kejagung Periksa 2 Staf PT ANTAM terkait Tipikor Tata Niaga Timah