Oleh: Dinar Purwati

Dalam dunia bisnis yang sering kali penuh dengan persaingan ketat, konsep Strategi Blue Ocean menawarkan pendekatan yang segar. Diciptakan oleh W. Chan Kim dan Renée Mauborgne, strategi ini mengusulkan penciptaan ruang pasar baru yang belum terjamah, yang secara metaforis disebut “Lautan Biru”, di mana jika kondisi persaingan bisnis terjadi begitu ketat, maka dibutuhkan sesuatu yang “baru” dan “berbeda”.

Dalam kaitannya terhadap bisnis di sektor pariwisata dan perikanan, Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, tentu memiliki potensi yang luar biasa terkait dengan potensi garis pantai dan produksi lautnya.

Begitupun demikian dengan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), sebagai salah satu provinsi kepulauan di Indonesia. Harus diakui bahwa hingga saat ini, sektor pariwisata dan perikanan Babel masih belum termanfaatkan dengan optimal, dan dari sekian banyak  penyebabnya, salah satunya adalah karena persaingan yang begitu ketat terkait dengan destinasi wisata pantai popular, ataupun bisnis komoditi perikanan.

Baca Juga  Mengenal Pantang Larang (1)

Untuk pariwisata, tentu orang lebih tahu dengan Bali, Wakatobi, ataupun Raja Ampat, yang memang sudah tersohor hingga penjuru dunia. Begitu pun di sektor bisnis komoditi perikanan, maka Jawa Timur, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur, memiliki produksi yang jauh lebih tinggi dari Babel.

Jika kita mau bersaing dari segmen yang sama, tentu sangat sulit bagi Babel, untuk mengalahkan daerah-daerah tersebut. Oleh sebab itu, perlu pendekatan lain, agar sektor pariwisata dan perikanan Babel, dapat berbicara banyak baik di level nasional ataupun internasional, dan salah satunya melalui pendekatan “Blue Ocean Strategy.

Pendekatan ini bisa menjadi kunci utama untuk meningkatkan sektor pariwisata dan perikanan sekaligus, memperkuat ekonomi lokal, dan mengurangi ketergantungan pada praktik tradisional yang sudah jenuh dengan persaingan.

Baca Juga  Ketua DPRD Dukung Rencana Pj Gubernur Bangka Belitung Merotasi Pejabatnya

Sektor pariwisata Babel bisa menonjolkan kearifan lokal, nilai sejarah, dan keindahan alam yang tersembunyi. Dengan menggali cerita-cerita lokal, kuliner unik, dan situs-situs sejarah, dapat diciptakan pengalaman yang autentik yang menarik wisatawan yang mencari sesuatu yang baru dan berbeda.

Kolaborasi dengan komunitas lokal untuk menyelenggarakan festival budaya atau tur interaktif dapat menambah nilai tambah yang tidak hanya mengurangi intensitas persaingan, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.