Menjaga Martabat Bangka Selatan
Dengan semangat gotong royong yang merupakan roh dan jiwa masyarakat daerah ini, Gedung Nasional yang merupakan gedung nasional pertama yang dibangun di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sukses dan hingga kini berdiri dengan gagah di Toboali dengan diarsiteki oleh putra Toboali M. Yusuf Bahir yang saat itu bekerja sebagai karyawan PN. Timah Toboali dan Lie Yung sebagai kontraktor pembangunan.
Siapa pun akan ingat dan ingat dengan nama Suhaili Toha. Pejuang yang dikenal sebagai penembak jitu amat ditakuti oleh Belanda. Kendati harus wafat ditangan Belanda karena ulah penzaliman yang dilakukan bangsa sendiri, namun bagi putra Toboali ini rasa patriotisme dan martabat Bangka Selatan harus ditegakkan walaupun nyawa menjadi taruhannya.
Kita juga tahu dan paham, bagaimana perjuangan kawan-kawan KPPT (Komite Perjuangan Pemuda Toboali) saat mengantar Bangka Selatan menjadi sebuah daerah otonom.
Perjuangan yang tak kenal lelah bahkan terkadang harus meninggal anak istri tanpa kompensasi sepeser pun.
Namun Bangka Selatan menjadi sebuah kabupaten adalah harga mati yang harus diperjuangkan dengan rasa patriotisme. Bagi kawan-kawan KPPT martabat dan harga diri Bangka Selatan harus diperjuangkan dan dijunjung tinggi hingga ke langit tujuh.
Sebagai warga daerah Bangka Selatan kita berharap maruah Negeri Junjung Behaoh yang dilahirkan dengan semangat kegotongroyongan akan terus dan tetap terjaga.
Mari kita menjaga maruah daerah ini. Dan menjaga nama baik daerah adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.
Apakah kita telah menjaga maruah Bangka Selatan?
Apakah kita telah merawat maruah Negeri Junjung Behaoh?
Mari tanyakan kepada nurani kita yang terdalam.
“Kita bangsa besar, kita bukan bangsa tempe. Kita tidak akan mengemis, kita tidak akan minta-minta, apalagi jika bantuan-bantuan itu diembel-embeli dengan syarat ini syarat itu! Lebih baik makan gaplek tetapi merdeka, daripada makan bestik tapi budak.”
(Bung Karno)

Rusmin Sopian, Penulis yang tinggal di Toboali
