Dinkes Catat 358 Warga Basel Alami ODGJ, Ternyata Ini Penyebabnya
BANGKA SELATAN, TIMELINES.ID — Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPKB), Kabupaten Bangka Selatan mencatat sebanyak 358 orang di Bangka Selatan mengalami gangguan jiwa atau menjadi Orang Dengan Gangguan Jiwa alias ODGJ.
Jumlah prevalensi kasus ODGJ ini mencapai 0,17 persen dari total 201.948 jiwa usia produktif.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPKB), Kabupaten Bangka Selatan, Slamet Wahidin menyebut beberapa kasus di antaranya merupakan ODGJ berat atau skizofrenia dan psikotik akut.
Sementara untuk penyebabnya diduga dipicu karena masalah ekonomi, percintaan hingga faktor genetik atau keturunan dari keluarganya.
Menurut Slamet Wahidin data ini merupakan data real time yang terus diperbarui di setiap wilayah kerja pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) setiap bulannya.
“Untuk prevalensi ODGJ di Kabupaten Bangka Selatan mencapai 0,17 persen atau 358 kasus hingga saat ini,” ujarnya, Senin (5/8/2024).
Ia menjelaskan dari 358 kasus ODGJ paling banyak diderita oleh kaum laki-laki dengan 264 kasus dan 94 kasus diidap kaum perempuan.
Kasus ODGJ paling banyak tersebar pada cakupan wilayah kerja Puskesmas Toboali dengan 136 kasus dan disusul Puskesmas Airgegas 50 kasus.
Lalu, wilayah kerja Puskesmas Simpang Rimba 45 kasus dan Puskesmas Payung 29 kasus. Kemudian, wilayah kerja Puskesmas Air Bara dan Puskesmas Rias yang sama-sama 20 kasus. Dilanjutkan, wilayah kerja Puskesmas Tiram 17 kasus dan Puskesmas Batu Betumpang 16 kasus.
Terakhir yakni cakupan kerja Puskesmas Tanjung Labu 15 kasus dan Puskesmas Kepulauan Pongok 10 kasus.
Slamet mengatakan, ratusan warga itu masuk kategori ODGJ karena berbagai permasalahan ekonomi dan sosial.
Mulai dari beban hidup, ekonomi, sosial, percintaan, ketidakmampuan untuk mengelola emosi sehingga mengalami stres berat dan kesehatan mentalnya terganggu.
