Hari ini aku berpapasan dengannya. Dia tersenyum, aku terbius senyumnya. Siapa aku, tentu semua orang di sekolah ini tahu, Juwi, primadona sekolah yang ditakuti, sebab aku adalah atlet karate sabuk hitam yang sering membawa pulang medali emas untuk sekolahku. Pagi itu aku menuruti saja ketika Emir mengajakku berbincang. Dia intens menatapku, aku terhipnotis.

“Golongan darahmu apa, Juwi?” tanya Emir sambil memijat kepalanya dan wajah tampak semakin pucat. Kujawab saja A plus. Senyumnya begitu semringah. Tanpa permisi mencekal tanganku, kami berlari ke belakang sekolah, dia mengambil jarum suntik baru, matanya yang menghipnotis membuat pergerakanku terkunci. Dengan leluasa dia menyedot darahku dengan jarum suntik yang dibawanya, setelah penuh, menutup bekas jarum di tanganku dengan plaster, tergesa meminum darahku. Ucapan terima kasih membuat aku yang terhipnotis sadar diri. Dia berlalu, ternyata drakula itu masih hidup di zaman modern. Dari jauh aku masih mendengar gumamnya meminta maaf padaku.

Baca Juga  Pentigraf: Obat untuk Drakula