Dalam diskusinya, Randi Syafutra menyoroti betapa pentingnya kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat dalam menyelamatkan Kukang Bangka dari ancaman kepunahan.

“Upaya konservasi tidak bisa dilakukan sendiri. Kita harus bekerja sama untuk menjaga satwa-satwa flagship kita agar tetap lestari,” ujar Randi.

Sebagai Pembina Himaserda Unmuh Babel, Randi berharap bahwa kegiatan-kegiatan konservasi semacam ini dapat dilaksanakan secara rutin, minimal sekali dalam sebulan.

“Kami berencana membuat program-program edukatif lain yang tak hanya menyentuh mahasiswa, tetapi juga masyarakat luas, terutama yang berada di sekitar habitat satwa liar seperti Kukang Bangka,” jelasnya.

“Semoga kegiatan ini mampu membangkitkan kesadaran dan komitmen para pemuda untuk turut serta dalam menjaga lingkungan dan keanekaragaman hayati, khususnya satwa flagship Bangka Belitung. Dengan semangat konservasi yang tinggi, harapan untuk menyelamatkan Kukang Bangka dan satwa lainnya dari ancaman kepunahan menjadi semakin nyata,” sambungnya.

Baca Juga  Dukung Lingkungan Lestari, Himaserda Unmuh Babel Turut Andil dalam Clean Up di Pantai Menuang

Sementara itu, Ketua Himaserda Unmuh Babel, Givalihin mengatakan bahwa kegiatan ini adalah langkah awal dari serangkaian upaya konservasi yang akan terus dilakukan oleh Himaserda Unmuh Babel.

“Kukang Bangka adalah simbol keanekaragaman hayati kita. Kehadirannya di alam adalah cerminan bagaimana kita menjaga bumi ini,” ucapnya.

Ketua pelaksana kegiatan, Rayhan Rizaki mengucapkan terima kasih atas partisipasi berbagai pihak yang telah mendukung kegiatan ini, baik dari segi kehadiran narasumber, peserta, maupun sponsor.

“Semoga kegiatan ini bisa menjadi pemicu semangat generasi muda untuk lebih peduli terhadap satwa dan lingkungan,” tambah Rayhan.