Non Regitur Ab Aliquo, Menyerap tanpa Menyaring
Dari berbagai dinamika dalam penguasaan yang terjadi di dalam suatu wadah, baik organisasi dan sebagainya. Maka dari kacamata Trilogi Penguasaan yang menekankan pada aspek realita dan rasional tersebut, ada beberapa hal yang menjadi perspektif saya terhadap banyak peristiwa yang benar-benar terjadi.
Penguasaan pikiran dan rasa/keyakinan, seringkali hal ini rentan dilakukan terhadap orang yang masih belum mendalami dinamika dalam sebuah organisasi (sebut saja polos). Penguasaan terhadap orang seperti ini seringkali dilakukan dengan memberikan pemikiran-pemikiran yang membuat tertariknya seseorang dan seolah-olah dirinya tinggi dalam berbagai bidang.
Sehingga ada rasa kagum terhadap yang memberikan asumsi-asumsi tersebut. Namun ada banyak upaya yang dilakukan oleh seseorang dalam menguasai orang lain melalui pikiran, baik itu diawali dengan membaca kondisi dan situasi seseorang. Beberapa hal yang memang saya rasa terjadi bahwa ada bentuk penguasaan terhadap diri orang tersebut, yang dilakukan dengan celah kondisi suasana hati dan kecondongan orang berpikir.
Saya berpandangan ada yang memanfaatkan celah itu untuk masuk dengan meniti alur berpikirnya, sehingga seringkali asumsi-asumsi yang sesuai dengan nalar berpikirnya terus diberikan. Jadi yang dirasakan oleh orang tersebut tentunya ada kesamaan pola berpikir serta keyakinan akan kebenaran dalam memandang suatu tindakan. Seringkali ketika sudah menjelma dalam keyakinan, kecil kemungkinan ada kesadaran akan maksud dan tujuan dari yang mencoba menguasai pemikirannya.
Namun tidak dapat dipungkiri lagi, ada cikal bakal doktrin-doktrin yang masuk akan menjelma persekongkolan dalam mencapai tujuan tertentu, terlepas itu kepentingan pribadi, golongan atau memang untuk kemajuan bersama. Kemudian tidak terlepasnya manusia sebagai makhluk yang memiliki hawa nafsu, terutama secara materialisme. Maka kasarnya menyampaikan kalimat ini, penguasaan terhadap individu juga dilakukan melalui kebutuhan (perut).
Terkadang ada individu yang terbawa arah dengan pola dan sistem orang lain karena kebutuhan perutnya terus dipenuhi. Ini yang saya maksud penguasaan jalur kebutuhan. Rasional berpikirnya adalah lihat kondisi saat ini, ada yang terus mensupport orang lain dengan materialisme/memenuhi kebutuhannya untuk ikut membantu mencapai tujuannya. Dalam dunia organisasi pun terjadi, apalagi dunia politik praktis yang belum kita selami.
Jadi sangat penting untuk setiap individu itu memahami atau menalari suatu hal jangan hanya satu arah. Ketika kita berpatokan pada satu pandangan untuk menalari atau mendefinisikan sesuatu, tumpuan dari hasil pandangannya juga hanya akan dari satu sisi. Namun cobalah memandang sesuatu dari berbagai arah dan kemungkinan.
Sehingga tidak menafsirkan sesuatu hanya kebenaran menurut dirimu. Kalau kata Nurcholis Madjid (Cak Nur), bahwa “Seseorang disebut menuhankan keinginan dirinya sendiri jika dia memutlakkan diri dan pandangan atau pikirannya sendiri. Biasanya orang seperti itu akan mudah terseret pada sikap-sikap tertutup dan fanatik, yang amat cepat bereaksi negatif kepada sesuatu yang datang dari luar tanpa sempat bertanya atau mempertanyakan adanya kemungkinan segi kebenaran yang dikandungnya.”
Akhir kata saya rasa perlu sebagai individu yang berpikir untuk mampu berpikir terbuka menerima dan menyaring informasi dan tidak serta merta mutlak memandang sesuatu tanpa memandang dari berbagai arah. Karena hakikat kebenaran bukan hanya pemikiran diri sendiri yang dianggap mutlak itu sudah tepat.
Penulis adalah mahasiswa hukum dan Kader HMI Komisariat Universitas Bangka Belitung
