“Jauh-jauh kami dari desa datang dengan 100 mobil teepaksa menginap untuk bisa meminta keadilan kepada Pak Pj Gubernur Babel karena kami tidak tahu lagi harus mengadu ke siapa. Jika tidak berhasil pepatah kami orang kampung ini kami tidak akan pulang karena tekad kami ke sini kami minta surat izin pertambangan itu dicabut,” tegas Eli.

Ia juga juga mengakui bahwa dirinya bersama ribuan warga lain sudah mengusir semua warga desa yang mendukung pertambangan di laut Desa Beriga.

“Saudara kami sendiri yang kami usir karena kami memang sudah ada perjanjian, siapa yang pro atau memihak ke PT Timah akan diusir dari kampung. Itu tekad kami dan kami akan siap bertumpah darah karena kami memang tidak mengizinkan ada pertambangan di laut kami,” tutup Eli.

Baca Juga  Sejak Bermitra Jadi Bagian Binaan Mitra PT Timah Tbk, Brand Rizky Parfum Kini Buka Cabang Baru

Sebelumnya, ribuan warga nelayan Desa Beriga bersama ratusan mahasiswa dan Walhi Bangka Belitung menggelar unjuk rasa di gerbang utama Kantor PT Timah Tbk dan Kantor Gubernur Kepulauan Bangka Belitung.

Ribuan massa ini menolak rencana pertambangan yang akan dilanjutkan oleh PT Timah Tbk di laut Desa Beriga Bangka tengah.

“Mata pencaharian warga desa itu bergantung pada ekosistem pesisir. Mereka nelayan, perempuan nelayan, pencari ikan, kerang dan pencari ketam yang hidupnya bergantung memanfaatkan bakau dan semua ekosistem pesisir laut Beriga,” kata Direktur Walhi Bangka Belitung, Ahmad Subhan Hafiz yang melakukan orasi di gerbang utama kantor PT Timah Tbk, Senin (28/10/2024).