Mengenal Taber Laut Desa Batu Beriga, Ungkapan Rasa Syukur Hasil Laut yang Melimpah
Setelah pembacaan doa yang dipimpin oleh ketua adat, dilanjutkan dengan makan bersama.
Para nelayan diminta sumbangan sukarela untuk membeli makanan bagi para tamu undangan lainnya.
Taber Laut dilakukan pada pagi hari dan tidak diperbolehkan dilakukan setelah lepas zuhur. Taber Laut dilakukan pada bulan April setiap tahun dan waktu yang pelaksanaan tergantung aba-aba dari ketua adat.
Setelah Taber laut, ada pantangan yang tidak boleh dilanggar yaitu warga tidak diperbolehkan untuk melaut. Dulu pada awal-awal pelaksanaan, pantangan tersebut selama tujuh hari, tetapi saat ini jumlah hari tersebut berkurang menajdi tiga hari.
Bagi warga, apabila sudah seminggu tidak melaut maka akan berpengaruh terhadap ekonomi. Oleh arena itu disepakatilah pantangan tersebut selama tiga hari. Apabila pantangan tersebut dilanggar maka akibatnya akan ditanggung oleh warga yang bersangkutan.
Menurut Bapak Jamaluddin, pada mulanya, Taber Laut sangat kental nuansa mistis dan syiriknya seperti membuang sesajian ke tengah laut.
Makanan diletakkan di sebuah perahu kecil kemudian dihanyutkan ke tengah laut. Mengingat hal tersebut dipandang menyimpang dari segi agama, maka atas kesepatakan Ketua Adat dan warga, prosesi tersebut dihilangkan.
Meilanto
Penulis, tinggal di Desa Jelutung, Kecamatan Namang, Bangka Tengah
