Serial Drakula Zaman Now: Mimpi Juwi
Mama masih penasaran dengan biru-biru di kedua tanganku. Seperti lebam bekas kena benda. Mama gak tau kalau drakula itu yang sudah menyedot darahku. Karena masih suasana pemulihan, aku tertidur lagi. Tiba-tiba aku sudah berada di alam yang bernuansa biru kehijauan atau hijau kebiruan? Ah, suasana aneh. Ada Kakek tua berjubah seperti Pangeran Diponegoro menunggang kuda berwarna putih, beliau mendekatiku. Sungguh, begitu bersinar seri wajahnya. Senyumnya menawan, tapi udah kakek-kakek, jadi tetap kalah ganteng dengan drakula itu, eh, apaan sih, astagfirullah.
“Nak, sebaiknya jangan dituruti kemauan temanmu. Itu bukan dia, tetapi makhluk yang mendompleng raganya. Yang minum darah itu bukan temanmu. Berhentilah memberikan darahmu.
Awalnya satu ampul, kemarin dia mengambil lebih, selanjutnya jiwamu akan terancam. Bicaralah pada orang lain tentang masalahmu. Ingat, Nak, bila kau ingin selamat, pemuda itu juga!” ujar Kakek itu yang kemudian menghilang. Seiring hilangnya Kakek, aku sadar dari mimpi dengan tubuh basah keringat. Jiwaku terancam? Aku akan diambil makhluk itu? Tidaaak!!!
