“Simpang Teritip ini memang jadi perhatian kita, karena stuntingnya tertinggi. Kita tekan harus turun setengah, 50 persen target kita,” bebernya.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan, Kecamatan Simpang Teritip menjadi wilayah dengan kasus stunting tertinggi di Bangka Barat. diikuti oleh Puskesmas Desa Kundi, Jebus, Tempilang, Kelapa, Sekar Biru, Desa Puput, dan Mentok dengan angka stunting terendah.

Rangkuti menjelaskan, faktor utama penyebab stunting sangat kompleks dan berkaitan erat dengan kemiskinan yang menyebabkan berbagai permasalahan sosial, seperti pernikahan dini dan rendahnya akses pendidikan.

“Penyebab stunting ini panjang kalau dilihat dari hulunya, bermula dari kemiskinan yang memunculkan pernikahan dini dan masalah lainnya,” terangnya.

Menurut Rangkuti, penanganan stunting tidak dapat dilakukan dalam jangka pendek, melainkan harus jangka panjang yang melibatkan seluruh komponen masyarakat.

Baca Juga  Gandeng Polsek Mentok, Rutan Gelar Penggeledahan Insidentil di Seluruh Kamar Warga Binaan

“Solusi jangka pendek tidak cukup, berarti harus jangka panjang. Karena kemiskinannya yang jadi titik hulu. Untuk mengatasi ini tanggung jawab seluruh komponen,” katanya.

Oleh karena itu, Dinas Kesehatan Bangka Barat berkomitmen untuk menurunkan angka stunting melalui upaya yang terintegrasi dengan sektor-sektor lainnya.

“Jadi bukan hanya dari sini, dari desa tokoh-tokoh masyarakat juga. Apa fungsi mereka? Bagaimana bisa mencegah anak-anak kita tidak nikah cepat karena masih dalam pertumbuhan. Usia 13, 14 tahun belum waktunya untuk menikah,” jelasnya.