Yang justru terjadi, Trump unggul jauh dari Kamala Harris baik dari electoral vote maupun popular vote.

Performa Harris terlihat lebih buruk ketimbang Hillary Clinton yang walau kalah electoral vote, perempuan pertama yang menjadi calon presiden AS itu mendapatkan dukungan popular vote yang lebih besar ketimbang Trump.

Hillary kalah dari Trump setelah mendapatkan 227 electoral vote, sedangkan Trump memperoleh 304 electoral vote.

Tapi dia didukung oleh 65,85 juta pemilih, atau tiga juta lebih banyak dari pendukung Trump yang mencapai 62,98 juta suara.

Tantangan tapi lebih ringan

Kenyataan-kenyataan ini menunjukkan hasil Pemilu 2024 menampar Partai Demokrat. Mereka kalah segalanya.

Tetapi pemilu 2024 juga menunjukkan Amerika Serikat belum siap dipimpin oleh seorang perempuan.

Baca Juga  Arsenal Siap Tantang Barcelona di Los Angeles

Sebelum pemungutan suara 5 November, sebagian besar jajak pendapat sudah menyatakan mayoritas pemilih pria condong memilih Trump.

Kini, seperti saat mengalahkan Hillary Clinton, Trump mulus memenangkan Pemilu 2024.

Kendati demikian, Trump tetap bakal menghadapi tantangan dalam menjalankan pemerintahannya, sekalipun mungkin lebih ringan dibandingkan dulu.

Mengutip laman donaldjtrump.com, pengusaha yang beralih menjadi politisi itu menjanjikan 15 hal, yang harus dia buktikan pada empat tahun terakhir periode pemerintahannya.

Ke-15 tema itu adalah membangun kembali perekonomian AS sampai yang terbesar sepanjang masa, perdagangan yang adil bagi pekerja Amerika, merengkuh kembali dominasi AS dalam energi, mengamankan perbatasan serta merebut kembali kedaulatan nasional.

Kemudian, memerangi kartel pengedar narkotika, menekan kriminalitas dan memulihkan keamanan, memperbarui kepemimpinan Amerika di dunia, menolak globalisme dan sebaliknya merangkul patriotisme.

Baca Juga  Pilu! 30 Warga Nigeria Tewas saat Rebutan Makanan

Lalu, melindungi para veteran Amerika, melindungi hak orang tua, menjunjung hukum dan kebebasan, mengakhiri sensor dan merebut kembali kebebasan berbicara, menegakkan pemilu yang jujur, memberantas korupsi di pemerintahan pusat, dan menyediakan layanan perlindungan kesehatan yang lebih baik nan lebih murah.

Mampukah Trump membuktikan semua janjinya itu? Bisakah dia membentuk kabinet yang tidak gaduh seperti pada masa jabatan pertamanya? Apakah dia akan memimpin AS dengan gaya sama seperti dulu, termasuk kala berhubungan dengan dunia?

Seharusnya dengan dukungan solid di legislatif, ditambah lembaga yudikatif di mana enam dari sembilan hakim Mahkamah Agung adalah hakim-hakim konservatif, Trump tak kesulitan mewujudkan janji-janjinya.

Jika dia memerintah dengan pendekatan seperti pada masa jabatan pertamanya, maka pendulum mungkin berubah lagi. Akibatnya dua tahun nanti, dalam Pemilu Sela 2026, menjadi momen penghakiman untuk Trump.

Baca Juga  Peringkat Reputasi Brand Girl Group Februari Diumumkan, Blackpink Tertahan Di Posisi Ini

Jika dia berhasil memuaskan sebagian besar rakyat AS, maka legislatif tetap digenggam Republik sehingga pemerintahannya tuntas tanpa guncangan keras.

Sebaliknya, jika tidak berhasil memuaskan sebagian besar rakyat, maka dua tahun terakhir pemerintahannya bisa penuh gejolak seperti terjadi lima atau enam tahun silam.

Tapi apa pun itu, Donald Trump layak diselamati karena telah memenangkan pemilu, yang merupakan proses politik paling layak dalam menentukan kepemimpinan nasional.

Sumber: Antara