BPS Gelar FGD, Pernikahan Dini di Basel Masih Jadi Masalah
Ia menyebut, FGD ini bertujuan untuk melakukan penajaman terhadap proses pengumpulan data yang dilakukan oleh BPS seperti indikator kematian internal dan fertilitas remaja.
Indiktor ini merupakan indikator yang digunakan untuk pengukuran RPJMN 2024-2029 dan juga SDGs. Bangka Selatan sendiri dipilih sebagai wilayah sampel untuk dilakukan pencermatan secara lebih dalam. Selain dari BPS, hadir juga dari Dinas Kesehatan, Dinas Kominfo, Kantor Kemenag, beberapa kecamatan dan juga pihak desa.
“Kesempatan tadi juga kita lakukan diskusi terkait intervensi program dan kegiatan yang dilakukan oleh masing masing stakeholder. Intervensi tersebut seperti peningkatan dan pemerataan cakupan layanan kesehatan, peningkatan kualitas sarana dan prasarana penunjang layanan kesehatan, advokasi dan sosialisasi kepada remaja serta peningkatan kualitas pengelolaan data,” kata Herman.
Ia berharap agar kegiatan ini terus menguatkan komitmen semua stakeholder terkait untuk berperan aktif mengatasi persoalan kematian maternal dan fertilitas remaja di Bangka Selatan.”
Sementara itu, Kepala BPS Bangka Selatan diwakili Kasubag TU, Imam Hidayat mengatakan, “FGD ini juga merupakan rangkaian dari persiapan pelaksanaan kegiatan Survei Antar Sensus (SUPAS) Tahun 2025 nanti. Kita berharap kegiatan SUPAS akan berjalan lancar dan menghasilkan data yang menjadi bahan perumusan kebijakan pembangunan daerah.”
