Kupilih Ibu May, Guru Agama Islam kami, untuk menceritakan tentang Emir. Aku pun bercerita sambil menangis, bahwa itu bukan Emir. Ada yang mendiami tubuhnya, Emir butuh darah agar makhluk itu tidak memberontak. Darah A plus, seperti darahku. Sepertinya dia butuh darah untuk mendiamkan kebrutalan makhluk itu, atau jiwa Emir bisa diambilnya.

Bu May tersentak mendengar ceritaku. Dengan spontan beliau menelepon seseorang untuk datang. Aku memohon agar rahasia ini tidak tersebar dahulu, kasihan Emir. Bu May mengangguk, kami menunggu seseorang yang ditelepon Bu May. Sepuluh menit kemudian seseorang itu datang. Loh, kok orangnya sama seperti mimpiku?

Baca Juga  Kenalkan Penulisan Genre Teenlit, Inalay Publishing dan PWI Basel Gelar Pelatihan Online