“Tambang alufial hanya ada di Babel, jadi teman-teman lain yang berasal dari tambang emas, tembaga antusias datang kesini agar mereka dapat mengenal tambang alufial langsung dan tidak menerka-nerka lagi,” ujarnya.

Para peserta juga turun ke lapangan untuk melihat langsung proses dari tambang timah primer di Desa Paku, tambang alufial di Desa Kulur dan di unit metologi para peserta melihat langsung proses pencucian timah dari 30-70 persen hingga proses peleburan dengan sistem baru yang otomatis dan mengunjungi kapal isap produksi milik PT Timah.

“Kegiatan kita selama lima hari, sejak 22 kemarin sampai 26 November besok. Dan para peserta juga sudah turun lapangan untuk melihat langsung metode, sistem dan proses tambang alufial disini,” ujarnya.

Baca Juga  PMDU UBB: Wujudkan Ketahanan Pangan Melalui Optimalisasi Manajemen Kelompok Tani dan Bumdes di Desa Gantung

Syafrizal berharap, melalui kegiatan ini Forkopindo bekerja sama dengan Universitas Bangka Belitung (UBB) dengan harapan UBB dapat memberi penjelasan detail terkait isu pertambangan yang saat ini terus berkembang.

“Dengan adanya isu yang berkembang sekarang tentang timah, kami dari akademisi berharap banyak juga terhadap teman-teman di UBB bisa menjelaskan detail dari kacamata akademisi agar lebih fair dan yang mengelola tambang juga harus orang tambang juga,” tutup Syafrizal.*