Penting: Revitalisasi Gapura Pintu Masuk Batas Wilayah Kabupaten atau Kota di Bangka Belitung Berbasis Budaya dan Kearifan Lokal
Beberapa elemen budaya, dan kearifan lokal yang dapat dimasukkan dalam desain gapura pintu masuk batas wilayah antar kabupaten atau kota di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, seperti simbol, atau lambang daerah, pada bagian tertentu bangunan fisik gapura menggunakan tempelan ornamen batu granit misalnya, atau simbol khas geografis dari kekayaan sumber daya alam baik darat maupun lautan yang terdapat di daerahnya masing-masing.
Elemen budaya, dan kearifan lokal lainnya, di antaranya dapat juga memasukkan simbol semangat perjuangan dalam relief pada dinding-dinding pembatas di sekitar area, atau lokasi berdirinya gapura dari para pahlawan yang berperan penting dalam sejarah atau budaya lokal, seperti “Depati Bahrin, Depati Amir, Hamidah, H.A.S Hanandjoeddin, Tony Wen Pahlawan 12”, dan simbol semangat perjuangan para tokoh pahlawan lainnya yang berasal dari Bangka Belitung.
Mengintegrasikan secara harmoni ukiran motif batik atau kerajinan khas daerah yang mempunyai akar budaya, dan kearifan lokal seperti motif batik “cual”, motif ukiran kayu, atau motif ukiran lainnya pada gapura pintu masuk batas wilayahnya masing masing, dengan revitalisasi diharapkan menghadirkan fisik bangunan gapura yang kuat dan ikonik corak kedaerahan.
Contoh lainnya, yaitu relief simbol pohon, bunga, atau tanaman yang menjadi ciri khas daerah di provinsi kepulauan Bangka Belitung Pada dinding-dinding pembatas di sekitar area, atau lokasi berdirinya gapura, seperti pohon nyatoh, pohon pelawan, pohon bulin, pohon mandaru, pohon sahang, bunga langka mirip udumbara yang ditemukan di Bangka Tengah, simbol pohon dan bunga lokal lainnya, serta relief simbol visualisasi sejarah lampau yang sudah dikenal, seperti “Prasasti Kota Kapur” dan masih banyak lainnya.
Menggunakan bahasa daerah atau aksara lokal, seperti aksara Melayu Bangka Belitung, untuk mengukir kata-kata, atau kalimat bijak pada gapuranya . Menonjolkan ornamen penting penanda atau simbol kearifan lokal utama seperti tudung saji, simbol jati diri serumpun sebalai, maupun simbol penanda kearifan lokal utama lainnya yang mengakar di dalam masyarakat Bangka Belitung.
Dengan memasukkan, memadukan elemen-elemen budaya, dan kearifan lokal yang telah diuraikan diatas, gapura pintu masuk batas wilayah antar kabupaten atau kota di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, tidak hanya berfungsi sebagai penanda fisik bangunan gerbang gapura semata, tetapi juga alat untuk memperkenalkan dan menjaga kekayaan budaya serta sejarah lokal.
Revitalisasi gerbang gapura sebagai pintu masuk wilayah di Bangka Belitung memainkan peran penting dalam mempertahankan identitas budaya dan kearifan lokal, sekaligus meningkatkan daya tarik daerah tersebut bagi wisatawan dan masyarakat setempat.
Program ini tidak hanya menjadi penanda batas wilayah, atau simbol penyambutan yang hangat, tetapi juga menggambarkan sejarah dan tradisi yang khas dari Bangka Belitung, sehingga mendorong rasa bangga dan kepemilikan di kalangan masyarakat.
Implementasi revitalisasi gapura pintu masuk batas wilayah antar kabupaten atau kota di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berbasis budaya lokal ini dapat berfungsi sebagai jembatan antara masa lalu dan masa depan, menjadi prasarana identitas, jati diri, dan tercapainya kemajuan yang mengaitkan bersatu padu, generasi tua dan muda dalam merawat warisan kultural yang kaya.
Heri Suheri., C.IJ., C.PW., CA-HNR., C.FLS, adalah penulis tetap Timelines.id.
