“Kita juga punya tenaga penyuluh kesehatan di setiap UPTD, kemudian ada kemitraan dan pastinya identitas pasien HIV/AIDS kita jaga dengan baik dan kita pantau semua pasiennya, agar tidak terjadi penularan,” tuturnya.

Zaitun juga menginfokan, bahwa Kecamatan Koba dan Kecamatan Pangkalanbaru menjadi daerah paling banyak kasus HIV/AIDS, karena memang kesadaran kesehatan di 2 kecamatan sudah baik dan sering melakukan deteksi dini.

“Walau Koba dan Pangkalanbaru memang banyak kasus HIV/AIDS, tapi bukan berarti Lubukbesar, Namang, Simpangkatis dan Sungaiselan tidak banyak ya. Cuma kurang kesadaran dan takut periksa saja,” tuturnya.

Ia melanjutkan, jika kasus HIV/AIDS memang terjadi karena adanya hubungan sesama jenis atau maraknya kaum LGBT yang terus berkembang sampai saat ini. Ditambah, banyak yang jajan sembarangan (Melakukan Hubungan Intim Berganti Pasangan).

Baca Juga  Bupati Algafry Imbau Warga Kibarkan Bendera Merah Putih Selama Agustus 2025

“Memang banyak terjadi HIV/AIDS karena kaum LGBT yang marak. Terus juga banyak yang suka gonta ganti pasangan. Itu yang harus dicegah,” ujarnya.

Ia mengimbau agar masyarakat melakukan deteksi dini penyakit HIV dan juga jangan mendiskriminasi penderita HIV/AIDS seperti pelaku kejahatan.

“Ya kita imbau masyarakat segera melakukan deteksi dini penyakit HIV/AIDS, agar penularannya bisa terputus dan pengobatannya bisa diberikan dengan baik. Terus jangan jadikan penderita HIV/AIDS seperti penjahat. Jamuan harus kita dukung,” pungkasnya.