Oleh: Rusmin Sopian

“Pak. Saya ingin menulis Pak Sidarta. Guru Multitalenta.” Demikian tulisan pesan WhatsApp dari Indra Pirmana seorang tenaga pendidik yang saya baca di pesan WhatsApp penulis sabtu (11/1) lalu.

Tulisan yang berjudul Sidarta, Guru Multitalenta dari Payung, Bangka Selatan yang ditulis Indra Pirmana, seorang tenaga pendidik yang mengabdi di SMPN 5 Payung, mengajarkan kita untuk memberikan apresiasi kepada mereka yang berprestasi.

Dan Sidarta Wakil Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Negeri Junjung Behaoh memang bukan nama asing bagi dunia pendidikan Bangka Selatan.

Mantan Nakhoda SMPN 1 Payung ini telah mengabdi sebagai pendidik sejak tahun 1992.

Berbagai prestasi telah ditorehkannya saat memimpin SMPN 1 Payung. Dan kini menjelang purna tugas mengabdi sebagai pendidik di SMPN 5 Payung.

Baca Juga  Kepemimpinan yang Menginspirasi: Menciptakan Dampak, Bukan Sekadar Jabatan

Kata apresiasi secara etimologis berasal dari kosakata apreciatio yang berarti menghargai.

Keke Tumangger dalam bukunya Menuju yang Tertuju berpendapat, apresiasi adalah proses penilaian atau penghargaan positif yang ditujukan untuk seseorang pada sesuatu.

Sedangkan menurut Beriansyah Triadi, apresiasi adalah aktivitas penilaian yang berupa penghargaan terhadap suatu hal yang berhubungan dengan karya seni dan karya sastra.

Pengertian diatas senapas dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia yang mengartikan apresiasi sebagai setiap penilaian baik dan penghargaan terhadap karya sastra atau karya seni.

Tak dapat dipungkiri, setiap orang senang diapresiasi. Rasanya melegakan ketika tahu apa yang kita kerjakan disukai dan dihargai orang lain. Usaha dan kerja keras kita jadi tidak sia-sia.

Baca Juga  Tetap Produktif di Bulan Ramadan, Ini 5 Manfaat Komunitas Belajar

Apresiasi tidak hanya terjadi dalam konteks karya sastra dan karya seni, tetapi juga dalam pekerjaan pada umumnya dan kehidupan sehari-hari.