Oleh: Sicne Viora, S.Gz

Teh merupakan minuman paling populer di seluruh dunia menempati posisi kedua setelah air putih. Kebiasaan minum teh merupakan tradisi pada setiap wilayah di Indonesia khususnya saat pagi hari atau menyajikan untuk tamu. Rata-rata konsumsi teh di seluruh dunia adalah 120 ml/hari per kapita (Nursilaputri, 2022).

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Boli (2022), remaja putri dengan pola minum teh ketika makan berisiko 52 kali lebih tinggi mengalami anemia karena kandungan tannin dalam teh berhubungan dengan tingkat serum ferritin. Teh adalah suatu tanaman yang banyak khasiat sebagai obat herbal.

Teh yang berkualitas baik berasal dari bagian pucuk dengan jumlah 2-3 helai daun muda, daun muda ini mengandung polifenol, kafein dan asam amino (Putriani, 2020). Kandungan antioksidan dalam teh berfungsi untuk menangkal radikal bebas, anti kanker, antimikroba, menurunkan kolesterol darah, mengurangi gula darah dan antibakteri (Azizah, 2022).

Di balik manfaat dari konsumsi teh, ternyata teh mengandung tannin yang dapat menyebabkan penyerapan zat besi dalam tubuh terhambat. Teh hitam dapat menghambat penyerapan zat besi non-heme sebesar 79-94% apabila dikonsumsi secara bersamaan (Royani, 2017).

Baca Juga  Miris, Remaja 18 Tahun di Mentok Jadi Pengedar, Simpan Sabu di 5 Lokasi

Kandungan tannin dan polifenol menghambat penyerapan zat besi pada saluran cerna sehingga menyebabkan anemia karena tannin pada teh dapat mengikat zat besi pada makanan yang dicerna, sehingga membuat penyerapan zat besi atau Fe yang dilakukan oleh sel darah merah akan berkurang (Setiati, 2019).

Anemia merupakan masalah kesehatan yang sering terjadi di seluruh dunia. Rata-rata penderita anemia di seluruh dunia adalah 30% dari populasi atau 2,20 miliar penduduk dunia khususnya daerah tropis (Eyato, 2019). Prevalensi anemia pada remaja putri di Indonesia pada rentang umur 13-18 tahun sebesar 22,7% atau 3-4 dari 10 remaja putri mengalami anemia. Prevalensi pada remaja laki-laki sebesar 20,35% (Kemenkes, 2018).

Anemia pada remaja dapat disebabkan oleh rendahnya asupan protein, zat besi, asam folat, vitamin A, vitamin C, riboflavin, vitamin B12 dan konsumsi makanan atau minuman yang mengandung tannin dan oksalat sebelum atau sesudah makan. Faktor lain yang mempengaruhi adalah lamanya waktu menstruasi, pendarahan, kebiasaan sarapan, status gizi, tingkat pendidikan serta tingkat social (Boli, 2022).

Baca Juga  Parah, Ditolak Hubungan Intim, Remaja Ini Malah Kirim Video Alat Kelamin

Konsumsi teh sesudah atau sebelum makan akan berpengaruh pada pembentukan hemoglobin, apabila zat besi dalam tubuh tidak mencukupi kebutuhan maka akan menyebabkan anemia defisiensi besi. Pada usia remaja, anemia defisiensi besi dapat mempengaruhi laju pertumbuhan dan pematangan organ reproduksi, khususnya pada remaja putri akan mengalami penurunan zat besi selama masa menstruasi dan apabila tidak ditangani dengan baik maka berisiko mengalami anemia pada saat kehamilan yang menyebabkan bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), pendarahan saat melahirkan dan kematian (Kusumawati, 2024).

Timbulnya anemia juga disebabkan oleh pola makan yang tidak sehat. Gaya hidup remaja berpengaruh pada status kesehatan, belakangan ini banyak makanan viral yang bermunculan seperti seblak, teh solo, bakso aci, mie instan, mie pedas, cilok, dan lain-lain yang kandungan gizi didalamnya tidak seimbang.

Pemilihan makanan yang tepat dapat mencegah terjadinya anemia, seperti: konsumsi makanan tinggi protein, tinggi zat besi, tinggi vitamin C, tinggi serat, dan kandungan gizi seimbang pada zat gizi lain akan meningkatkan kandungan zat besi dalam tubuh (Fitriani, 2019).

Baca Juga  Remaja Residivis Diringkus Polda Babel usai Embat Motor di Kampung Dul

Upaya dalam mencegah terjadinya anemia pada remaja adalah dengan tidak mengkonsumsi teh sebelum atau sesudah makan, untuk membantu penyerapan zat besi dalam tubuh dianjurkan untuk mengkonsumsi sumber vitamin C.

Vitamin C mempunyai peran dalam pembentukan hemoglobin dalam darah, dimana vitamin C membantu proses penyerapan zat besi dan makanan sehingga dapat diproses menjadi sel darah merah (Rieny, 2021). Vitamin C banyak ditemukan pada sayur dan buah, seperti: jambu biji, jeruk, rambutan, kol, sawi, kembang kol, selada air, bayam, tomat, strawberry, paprika hijau, anggur, lobak, dll (Kemenkes, 2023).

Untuk mencegah anemia pada remaja puteri disarankan untuk mengkonsumsi makanan atau minuman yang tinggi akan vitamin C dan konsumsi tablet tambah darah sesuai anjuran yang diberikan. Selain itu remaja putri diharapkan dapat mengkonsumsi makanan dengan gizi seimbang.

Penulis merupakan mahasiswa Pendidikan Profesi Dietisien Universitas Esa Unggul