“Sesuai dengan arahan Bapak Presiden RI, swasembada pangan harus terwujud di tahun 2025, bahkan beliau sampaikan di akhir tahun 2025, kita tidak ketergantungan lagi dengan beras dari luar, tidak ada impor beras, maka dari itu dibentuklah Brigade Pangan,” ujar Hengki.

Hengki menerangkan, Brigade Pangan adalah sebuah sistem manajerial yang terdiri dari kurang lebih 15 orang untuk mengelola kurang lebih 150-200 Ha sawah, sehingga Indeks Pertanian (IP) meningkat, yang sebelumnya IP 100 menjadi 200 dan seterusnya. Alat dan mesin pertanian (Alsintan), seperti TR-4, mesin combine, drone dan lainnya juga akan didukung oleh pemerintah.

Hengki juga menyampaikan harapan besar untuk petani di Bangka Tengah. Dirinya juga menjelaskan bahwa pertanian di Indonesia semakin hari harus semakin modern.

Baca Juga  Begini Pengakuan Pengemudi Sedan yang Sebabkan Suami Istri asal Toboali Meninggal

“Saya berharap Bangka Tengah bisa menjadi menjadi sentra padi, khususnya untuk daerah sendiri, supaya tidak ketergantungan dengan daerah lain,” tuturnya.

“Bapak/Ibu petani harus lebih semangat, saya lihat Bangka Tengah ini memiliki energi yang luar biasa, kemudian stakeholder yang lain saya harap ada komunikasi, kolaborasi, koordinasi, serta eksekusi secara bersama-sama,” sambung Hengki.

Menurut Hengki, tidak mungkin segala sesuatu bisa dikerjakan sendiri, harus ada sinergi, sehingga tidak ada ego sektoral dan tidak ada saling menyalahkan.

“Kita sama-sama menuju tujuan akhir yaitu swasembada pangan harus berhasil,” harapnya.

Brigade Pangan di Bangka Tengah yang dibentuk ini terdiri dari petani Desa Namang dan Belilik. Brigade Pangan ini dimanajeri oleh Yudi (petani milenial), dan terdapat beberapa divisi, di antaranya divisi produksi, divisi alsintan yang mengelola alat dan mesin pertanian, divisi usaha dan paska panen (pengeloaan dan pemasaran), serta divisi keuangan dan umum.

Baca Juga  Kasus DBD di Bangka Tengah Naik Hampir 100 Persen, Dinkes Catat 4 Meninggal Dunia