Kapok Saya Tidak Hadir di Acara HPN
“Pers banyak mengalami dinamika di dalam maupun di luar negeri.”
Apakah dinamika yang dimaksud salah satunya adalah perseteruan Zulmansyah Sekedang dengan Hendry Ch Bangun.
Ya, dualisme PWI yang membuat kami para junior ini merasa gundah gulana.
Organisasi pers terbesar dan tertua di Indonesia ini seakan hilang marwah.
Dewan Pers melarang PWI berkantor di sekretariat yang puluhan tahun telah ditempati.
Program Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang selalu ditunggu-tunggu wartawan muda kini ditiadakan.
PWI hilang arah. Penulis sepakat dengan apa yang dikatakan Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat, Sasongko Tedjo.
Dualisme kepemimpinan PWI menyebabkan integritas PWI merosot jauh.
PWI harus mampu menyelesaikan permasalahan ini secara internal melalui mekanisme organisasi yang sesuai dengan konstitusi.
Membaca tulisan Maspril Aries yang berjudul Dualisme PWI di HPN 2025 dan Kongres PWI 1970 (Kingdom Sriwijaya), ternyata konflik dualisme PWI juga pernah terjadi di tahun 1970.
Namun akhirnya Kongres XV Jawa Timur tahun 1973 yang menyatukan kembali pengurus PWI.
Nah, apakah dualisme PWI saat ini harus menunggu kongres PWI XXVI? Entahlah.
Seketika penulis teringat almarhum Tarman Azzam asal Bangka Belitung, sosok berintegritas yang disegani jurnalis se-Indonesia ketika itu.
