Selain peribadahan, salah satu ritus yang cukup menarik yakni tradisi bersilaturahmi ke rumah saudara, tetangga, atau teman yang tinggal di desa/dusun yang berlebaran.

Tuan rumah yang “open house” pun menyajikan beraneka pangan yang siap dinikmati seperti nasi, lauk-pauk, pempek, kue, buah-buahan, dan minuman. Banyaknya tuan rumah yang berlebaran dan tamu yang berkunjung membuat suasana lingkungan tampak meriah dan jalanan ramai kendaraan.

Bagi orang yang berasal dari luar Bangka, tradisi bertamu lazimnya digelar saat momen Idulfitri. Mungkin saja kearifan lokal 6 lebaran ini menimbulkan gegar budaya (shock culture), sehingga muncul pertanyaan: “Bagaimana bisa di tengah kondisi ekonomi yang sulit saat ini, masyarakat Melayu Bangka masih bisa menyelenggarakan banyak lebaran dalam setahun?”

Baca Juga  Menjadi Perguruan Tinggi sebagai Institusi Sosial  

Belum ada jawaban pasti atau penelitian lanjut terkait pertanyaan tersebut. Namun penulis mengajukan beberapa hipotesis jawaban.

Pertama, lebaran sebagai solidaritas sosial. Meskipun tidak ada paksaan atau kewajiban untuk merayakan lebaran, namun di level individu dan keluarga Melayu yang terikat nilai-nilai akulturasi agama-budaya setempat, terasa aneh bila tidak mengikuti tradisi tersebut.

Kedua, lebaran sebagai momen interaksi sosial. Di tengah kesibukan rutinitas kerja, relatif sulit untuk meluangkan waktu berjalan-jalan dan bercengkrama dengan kenalan di suatu daerah.

Dengan adanya lebaran, tercipta momen interaksi yang bisa diisi dengan obrolan tentang berbagai hal, seperti kondisi keluarga, prospek karir, humor, isu politik, problem kesehatan, dan sebagainya. Silaturahmi terjalin, informasi didapat, hati pun terhibur.

Baca Juga  Karate dan Pembentukan Karakter

Ketiga, lebaran sebagai momen wisata kuliner. Saat lebaran, bermacam jenis hidangan dan minuman disajikan dari rumah ke rumah. Ini bisa menjadi salah satu daya tarik bagi tamu yang datang berkunjung untuk sejenak memanjakan lidah, dengan porsi yang sewajarnya, tidak berlebihan, dan tidak memberatkan tuan rumah.

Semoga tradisi agama-budaya masyarakat Melayu Bangka ini tetap lestari, sambil berharap faktor-faktor ekonomi makro (penyerapan kerja, upah layak, harga kebutuhan pokok, dan lain-lain) terkendali.

Penulis merupakan Dokter umum di RSUD Bangka Selatan.