“Bunda… hosh, hosh, hosh… Bunda!”

Bundaku langsung memberi bantuan pernapasan dari selang tabung besar yang dialiri oksigen. Dan sekarang aku jadi bisa bernapas dengan lega lagi.

“Karin, kamu harus bertahan, Nak… itu harus,” ujar Bundaku setengah terisak.

Ya, Bunda, aku selalu berdoa agar diberi kesembuhan. Tapi… aku juga takut… Karena setelah diperiksa lebih lanjut, ternyata aku sudah mengidap gangguan ini sejak masih dalam kandungan.

“Terima kasih, Bunda,” kataku.

“Sama-sama,” balas Bundaku sambil tersenyum. Sekarang, kebahagiaan mulai lagi memenuhi kamar ini.

Aku menatap raut wajah Bunda. Wajahnya terlihat cemas, dan keningnya mengeluarkan keringat dingin. Sepertinya Bunda sangat khawatir karena takut aku kehabisan napas.

Baca Juga  Kapal Pengungsi SS Vyner Brooke, Bukti Kekejaman Jepang di Mentok (Bagian I)

“Bunda…”

“Iya, Sayang,”

“Bunda enggak usah khawatir karena aku ya”.

“Tenang, Sayang, Bunda enggak khawatir kok.”

“Oh begitu ya, Bunda.”

Aku menatap Bunda lagi. Mukanya berseri seri menatapku, sedikit rambutnya yang berwarna hitam terurai melewati batas jilbabnya. Sore itu terus berjalan hingga azan berkumandang.

“Allahu Akbar… Allahu Akbar!”

“Eh… udah azan tuh, Karin.”

“Iya, kita tunggu iqamah dulu baru shalat… Eh, Bunda, azannya sudah berhenti! Sebelum shalat, maukah Bunda bernyanyi untukku?” Bunda memang punya suara yang merdu. Rasanya hati ini tenang mendengar nyanyian Bunda.

“Apa pun maumu, Sayang,” jawab Bundaku lembut, lalu bersenandung lagu ‘Astaghfirullah’ milik Opick.

Bunda memang pandai bernasyid seperti Opick!

Baca Juga  Ruang Tanpa Sekat

“Allahu Akbar, Allahu Akbar,” Iqamah sudah datang, aku langsung mengambil air dari ember yang disediakan di samping tempat tidurku. Bundaku mengambil air di keran dan langsung berwudhu, sama seperti aku.

“Allahu Akbar,” lafadz itu terucap dari mulut Bunda.

Walau aku sakit, aku tetap shalat lho! Aku berwudhu dengan duduk, shalat juga duduk, dan di atas kasur. Sekarang tiba saatnya duduk di antara dua sujud. Aku membaca sebuah doa dengan khusyuk.

“Robbighfirli warhamni wajburni warfa’ni warzuqni wahdini wa’afini wa’fu’anni,” Aku menitikkan air mata.

Kenapa aku menitikan air mata? Apakah kalian tahu arti dari bacaan tersebut? Arti dari kata yang sering kita ucapkan sehari-hari itu sebenarnya adalah: Ya Tuhanku! Ampunilah aku, kasihanilah aku, cukupkanlah (kekurangan)-ku, angkatlah (derajat)-ku. (bersambung).

Baca Juga  Bidadari Dunia (2)

Fauziah Heriyansyah adalah Alumnus SMA Negeri 1 Toboali tahun 2024, sekarang Mahasiswa Jurusan Hukum Universitas Bangka Belitung.