Tio yang hanya diam tak berkata mengawasi para tetangganya menyebut dan menanggil namanya berulang kali.
Tabir pembatas telah menghalangi pandangan orang orang sekitar namun tidak bagi bocah bernama Tio.

Tio yang saat itu disembunyi kan dari pandangan orang orang yang tak bisa membuka mata bathin oleh penghuni hutan di wilayah perbatasan Desa Tukak dan Desa Tiram kabupaten Bangka Selatan.

Saat azan Zuhur berkumandang Tio seakan tersadar dan bergegas menghampiri nenek nya yang masih berkerumun di seputaran kebun dengan sedikit ketakutan terlihat dari raut wajah kecilnya.

Tabir penghalang antara dunia nyata dan dunia maya tersingkap setelah terdengar Azan dari surau desa.
Tabir itu telah membelenggu sang bocah Tio hingga untuk mengucapkankan sesuatu pun lidah nya terasa kelu dan kaku.

Baca Juga  Putri Kulong Bakung

Butuh waktu untuk menjelaskan perihal yang terjadi sesungguhnya oleh Tio yang masih tergolong anak anak.

Namun setelah berlalu beberapa hari, di hadapan ayahnya, Tio menjelas kan bahwa dia melihat dan tahu dengan jelas apa yang terjadi sesungguhnya tapi mulutnya terbungkam ketakutan dan dikelilingi makhluk makhluk yang ada di sekitar nya waktu itu.

Lokasi yang ia tempati untuk bersandar tak lain dan tak bukan adalah halaman rumah para penghuni hutan dan keadaannya pun tak ubah dengan perkampungan yang ada pada manusia sebagai mana di dunia nyata.

Beruntung Tio kecil tak sempat mencicipi makanan yang disuguhkan para penunggu hutan tersebut.

Dari kisah yang dialami Tio dapat kita petik makna jangan sampai anak anak kita disembunyikan (Bunyek) Hantu yang memang antara manusia dan mahkluk halus (Hantu) hanya berbatas tabir pemisah yang sangat tipis namun hanya orang  orang tertentu yang bisa melihat jelas Alam mereka. Walahualam bissawaf.

Baca Juga  Petualangan Mentilin dan Penyelamatan Hutan

Penulis merupakan penyair yang tinggal di Habang, Bangka Selatan.