Bidadari Dunia (2)
“Mana aku tahu…,” jawabku sekenanya.
“Mungkin salah kali. Masa sih, anak bandel kayak dia bisa diadopsi sama bidadari yang baik hati!” protes Colline.
Semua anak panti terdiam beberapa saat memikirkan aku, termasuk aku. Semua tak habis pikir, masa ada sih yang mau mengadopsi anak nakal kayak preman seperti aku? Mimpi kali, aku! Aku terus berpikir, mungkin ada kesalahan penulisan nama, Seharusnya bukan namaku yang tercantum di situ, tapi anak lain.
Oh, ya! Apa karena aku tersenyum pada bidadari itu tadi malam? Malam itu aku memang memakai baju dengan namaku di belakangnya.
“Tapi… bidadari itu sendiri yang mau mengadopsi Karin, jadi… have fun, ya…,” ujar Maridonna, gadis cilik berambut ikal itu. Sementara Colline masih saja diam.
“Sudah… sudah, ayo kita bertemu dengan bidadari yang dari tadi ingin bertemu dengan kalian di ruang tamu. Ayo kita ke sana, jangan sampai dia menunggu lama,” ucap Bunda Aisyah.
Sesampainya di ruang tamu…
Seorang perempuan cantik berjilbab ungu muda sedang duduk menunggu kami. Saat kami datang, ia memperkenalkan dirinya. “Nama saya adalah… Bunda Laila. Saya akan mengadopsi Karina besok pagi. Jadi, bersiap siap ya, Karin, besok pagi saya akan menjemputmu,” ujar perempuan itu.
Dia bilang besok pagi akan menjemputku? Oh… tidak, aku saja belum sempat berpikir. Ya, Allah… bolehkah aku menolaknya?
Uhh… Sebel… kenapa harus aku sih yang dipilih perempuan itu untuk diadopsi?
Gara-gara dia, aku jadi berpisah dengan teman-temanku. Huft… Malam pun tiba. Aku mulai mengemasi pakaian dan barang-barangku yang ingin Kubawa besok pagi.
Aku sadar malam ini adalah malam terakhirku bisa tidur di panti bersama teman- teman. Aku jadi sedih.
Setelah mengemasi barang-barang, aku pun merebahkan badanku di tempat tidur. Aku melihat teman-temanku sudah tertidur pulas, tapi tidak denganku.
Ya Allah… aku tidak ingin berpisah dengan mereka….
Keesokan paginya…
“Ayo, Karin mandi!” suruh Colline.
“Iya, iya!” jawabku.
Bunda Laila datang pun kembali untuk menjemputku. Ya, sekarang aku resmi diadopsi menjadi anak angkatnya.
Aku sangat sedih karena harus berpisah dengan teman-teman. Apalagi saat berpisah dengan Colline.
“Maafin aku ya kalau aku banyak salah… Hiks,” Colline meneteskan air mata.
“Maafin aku… hiks… juga ya, hiks…,” kataku sesenggukan.
‘SELAMAT TINGGAL, KARINA!”. Tulisan itu tertera di teras panti asuhan. Colline diam kaku tidak berbicara. Tak lama kemudian, ia menangis sejadi-jadinya.. Walah! Memangnya aku meninggal? Tapi, Colline… aku juga sangat sedih meninggalkanmu…
“Ayo masuk ke dalam mobil, Karina!!” perintah Bu Laila.
“Karin enggak mau, Bu Laila!” kataku
Sambil memalingkan wajah.
Sejenak kuperhatikan wajah Bu Laila. Raut wajahnya terlihat sedih. Matanya yang indah mulai berkaca-kaca. Namun ia menahan air mata yang akan jatuh di pipinya.
Wahai anak yang nakal! Siapa yang akan memberikanmu pelangi warna-warni, siapa yang akan membangunkanmu di tengah mentari, “Bu Laila bersenandung sehingga aku menjadi sedikit tersentuh. Akhirnya aku masuk.
Di dalam mobil itu, aku cemberut saja. Walaupun AC mobil itu sangat dingin menusuk kulitku, aku tak peduli. Sepanjang jalan, kupalingkan wajahku ke kaca, melihat sebuah kanvas berwarna biru terhampar di angkasa.
Aku menatap awan yang selalu bergerak. Kulihat ada bentuk domba, kupu-kupu, dan batu. Tetapi, mataku terhenti saat melihat lukisan di atas kanvas besar berwarna biru itu ada gambar ibu dan anak! Tiba-tiba lagi, awan itu membentuk huruf Arab, yang jika dibaca adalah ALLAH.
Bersambung..
Penulis merupakan mahasiswa UBB asal Bangka Selatan.
