Tukang Areng dan Makhluk Bertanduk
bola mata mencolok keluar tak ubah laksana bola mata ikan mas hias.
Lama mata Mang Suef tak berkedip memandang sesosok makhluk bertanduk yang tegak berdiri tepat tak jauh dari tenda nya siang itu.
Tingginya sang makhluk bertanduk itu, malahan melebihi pohon kayu yang akan ia tebang namun selalu gagal.
Tersentak sadar Mang Suef menundukkan kepala nya dan beristighfar.
Perlahan mata Mang Suef mengintip dengan menegakkan kepala sedikit.
Makhluk tinggi besar bertanduk telah hilang di hadapan nya.
Suasana riuh gemuruh anak anak kecil dari balik hutan membuat bulu kuduk Mang Suef terus berdiri.
Dalam Hutan yang tak terdapat kebun dan jauh dari pemukiman penduduk mengingatkan ia akan film film horor yang pernah ditonton semasa muda.
Di bawah gerimis dan telinga masih terselip daun hijau, Mang Suef bergegas meninggalkan hutan dan pohon kayu yang gagal ditebang hari itu.
“Mungkin kah makhluk itu yang disebut Genderuwo,” Mang Suef berkata pelan.
Ia pulang ke rumah tanpa membawa kayu untuk membuat arang.
Kejadian yang barusan dialami mang Suef bukan lah hal baru bagi dirinya.
Masih banyak hal hal di luar nalar yang ia temui semenjak menjadi seorang pembuat arang.
