Bidadari Dunia (3)
Dengan kesal, aku langsung keluar dari ruang komputer meninggalkan komputerku yang masih menyala. Aku ingin tidur saja!
Aku melihat Bu Laila ke kamar itu. Mau apa ya dia?
Ya ampun! Aku lupa menutup account-ku! Bagaimana ini?
Aku kembali menuju ruang komputer.
Tetapi… ruang itu dikunci! Mau tidak mau aku pasrah… Aku pun langsung ke kamar mandi untuk mandi. Sesudah mandi aku langsung memakai handuk dan menuju kamarku. Di meja kulihat ada surat kecil dari Bu Laila..
Untuk Karina
Bunda sudah tahu bahwa kamu menjawab pertanyaan pertama dengan kalimat: Disuruh Dewasa perempuan yang menyebutku sebagai anaknya. Tahukah kamu, Bunda sangat berharap banyak pada Karina. Tetap kenapa kamu malah begini? Bunda jadi sedih mendengarnya.
Aku menutup suratnya dan jadi sedikit iba. Tapi, mau bagaimana lagi? Memang begitu perasaanku yang sebenarnya. Sepertinya ini adalah hari pertamaku dengan Bu Laila yang teramat buruk.
Mengingat cerita ini kembali, aku jadi sedih sekali. Ternyata, aku pernah melakukan ini pada Bidadari Dunia, orang yang kini teramat aku cintai dan menemaniku saat terbaring di rumah sakit. Mungkin karena aku sakit, maka aku jadi mengenang Bundaku.
****
Setelah kejadian itu, aku jadi iba kepadanya. Pagi ini, aku akan minta maaf kepada Bu Laila. Kamarku ada di lantai tiga, aku mengendap-endap turun dari tangga, lalu menuju kamar Bu Laila.
Sesampainya di kamar Bu Laila…
“Ibu kenapa? BU LAILA!” teriakku panik.
Bu Laila diam tanpa sepatah kata pun. Sudah kuguncang-guncangkan tubuhnya, tapi ia tetap saja tak bergerak. Aku diam kaku. Mungkin Bu Laila pingsan karena sesuatu telah terjadi padanya. Aku sibuk mencari telepon. Setelah menemukannya, aku langsung menelepon rumah sakit.
“Selamat pagi, ada yang bisa kami bantu?” tanya seseorang perempuan.
“Iya, Mbak, di rumah saya ada orang Pingsan!” jawabku.
“Di mana alamat rumahmu?”
“Jl. Kembang Cahyana nomor 92, Slipi, Jakarta.”
“Baik, kami akan segera pergi dengan ambulans.”
Telepon langsung mati. Tiba-tiba aku menyadari sesuatu. Uang dari mana untuk membayar rumah sakit?
Oh, ya, tabungan keluarga! Sebenarnya, itu tabungan Bu Laila karena aku tidak menabung sama sekali. Mau bagaimana lagi, aku kan tidak punya uang sendiri. Yap, aku harus mencari buku tabungan Bu Laila!
“Ya, ampun! Banyak sekali uangnya!” aku terbelalak melihat angka yang tertera di buku tabungan itu. Kemudian, aku meminta tolong pada Pak Pur, sopir kami, untuk mengambil sejumlah uang di bank.
Tinut-tinut… bel ambulans terdengar dari luar rumah. Aku pun langsung keluar dan memberitahu letak kamar Bu Laila. Beberapa petugas ambulans pun mengangkut Bu Laila secara perlahan. Kami menuju Rumah Sakit Permata Hati.
Sesampainya di rumah sakit, Bu Laila langsung dibawa ke UGD atau Unit Gawat Darurat dan ditangani secepatnya oleh dokter Aku menunggu dari luar ruangan.
Aku menunggu lama sekali, hampir satu jam. Tiba-tiba dokter keluar.
“Bagaimana keadaan Bu Laila, Dok?” tanyaku.
“Keadaannnya …,” dokter itu menunda jawaban selanjutnya. Kulihat, di matanya ada rasa iba.
“Kenapa, Dok?” tanyaku lebih lanjut.
“Bu Laila terkena kanker hati…,” terangnya
Mataku mulai berkaca-kaca.
“Bagaimana cara menyembuhkannya, Dok?” tanyaku.
“Harus ada yang mendonorkan hati,” kata dokter itu lagi.
Aku tercengang. Mungkin Bu Laila selamanya tak akan mendapatkan donor karena aku tidak mau hatiku didonorkan. Tiba-tiba saja, ada seorang ibu berkerudung yang bertanya kepadaku.
“Kamu kenapa, Nak?” tanyanya.
“Bu Laila, ibu angkat saya sedang terkena kanker hati…,” tuturku.
“Lalu bagaimana caranya untuk sembuh?” tanyanya belum puas.
“Harus ada orang yang mendonorkan hatinya,” jelasku. Ibu itu terdiam dan langsung masuk ke ruangan dokter. Aku kemudian ke toilet karena ingin buang air kecil.
Sesudahnya…
Aku kembali ke ruang tunggu. Kulihat, beberapa perawat dan ibu tadi mendorong tempat tidur Bu Laila. Aku bingung dan mengikuti mereka.
Sampailah kami di tempat yang dituju. Kulihat tulisan di depan pintu itu: RUANG OPERASI.
“Adik tidak boleh masuk,” jelas dokter itu. Terpaksa, aku menunggu lagi di luar. Tapi kenapa ibu tadi boleh masuk? Uh, sangat M-E-N-Y-E-B-A-L-K-A-N!
Aku menunggu dan menunggu sampai tertidur. Aku bermimpi bertemu Shincan! Lucunya… Hehehe…
Saat aku bangun.
Aku menengok ke ruang operasi. Ranjang Bu Laila sudah keluar dari sana dan dibawa lagi ke ruang perawatan. Tetapi, tidak ada ibu itu lagi. Aku pun mengikuti ranjangnya ke ruangan perawatan. Aku tidak boleh masuk lagi selama beberapa menit.
Tak lama kemudian…
“Silakan menjenguk Bu Laila,” kata dokter itu sambil tersenyum kepadaku.
Bersambung..
Penulis merupakan mahasiswa UBB asal Bangka Selatan.
