Bidadari Dunia (Tamat)
“Nak… shalat, Nak…,”
“Ah, enggak usah, kan aku harus nemenin Bunda,” jawabku sambil terus membaca buku.
“Jangan begitu, Nak… Karin mau bikin Bunda senang kan? Bunda akan senaaaang sekali kalau Karin rajin shalat,” kata Bunda sambil tersenyum.
Tak tega melihat wajah Bunda, aku langsung menuju toilet dan berwudhu.
Sesudah mengambil air wudhu…
“Nak, apa kamu tahu makna berwudhu?” tanya Bunda.
Hmm… rasanya dulu Bunda Aisyah pernah menjelaskan hal ini. Tapi karena aku jarang memerhatikan, maka kujawab, “Tidak…”
“Berkumur-kumur supaya kita tidak berkata tercela: membersihkan hidung supaya hidung kita tidak terbawa hawa nafsu iblis: membasuh muka: supaya mata kita tidak melihat yang tercela; membasuh tangan sampai sikut: agar kita tidak mempergunakan tangan kita untuk hal yang tercela; membasuh kepala: agar kita jernih dalam berpikir: membasuh telinga: agar telinga kita tidak mendengar yang tercela; terakhir membasuh kaki sampai mata kaki: supaya kita melangkah di jalan yang lurus.
Nah, sekarang kamu tahu kan apa maknanya?” jelas Bunda panjang lebar.
Aku melongo dan mengangguk-angguk. Pinter banget yah Bundaku ini… Dan aku pun memulai shalat. Baru saja selesai, tiba-tiba Bunda mengagetkanku.
“Nak… apakah kamu tahu apa makna dari shalatmu itu?” tanya Bunda yang baru selesai shalat di tempat tidur.
Aku menggeleng. Aku sih shalat karena disuruh sama Bunda, hehe….
“Ada begitu banyak makna shalat, Nak. Salah satunya adalah sebagai wujud rasa bersyukur kita pada Allah. Karin senang kan bisa jalan-jalan ke Dufan seperti kemarin? Nah, sebagai rasa terima kasih Karin kepada Allah yang telah memberi kebahagiaan itu, Karin harus menjalankan apa yang diperintahkan-Nya, salah satunya shalat.”
Aku mencoba meresapi perkataan Bunda dengan mengingat kebahagiaan yang telah kudapat belakangan ini. Ya, Allah telah memberikan banyak kesenangan padaku. Dan lebih dari apa pun, Allah telah memberiku seorang bunda yang baik hati. Alhamdulillah… memang sudah sepatutnya aku bersyukur pada-Nya.
“Oh, begitu ya, Bunda. Oh ya, Bunda mau ceritain masa kecil Bunda enggak?” tanyaku.
Tiba-tiba bundaku menangis. Apakah aku telah melukai hatinya? Kubiarkan saja Bunda menyelesaikan tangisnya. Perlahan, Bunda akhirnya cerita juga.
”Masa kecil Bunda kurang bahagia…,” ucap Bunda.
“Kenapa?” tanyaku.
“Pada umur lima tahun, Bunda dijual oleh ibu kandung Bunda kepada seorang saudagar kaya. Ibu kandung Bunda itu sangat miskin sehingga tidak bisa menghidupi kami berdua Sedangkan ayah kandung Bunda pergi entah ke mana. Bunda sangat sedih sekali. Di keluarga baru itu, Bunda punya saudara tiri Namanya Laina. Ya, orang yang mendonorkan hatinya untuk Bunda waktu itu. Laina tidak suka pada Bunda. Mungkin karena dulunya ia anak tunggal dan sekarang ia menjadi adik. Ia meminta bertukar bola mata dengan Bunda. Kalau tidak, ia mengancam akan mengusir Bunda. Akhirnya, permintaan itu dituruti. Rasa sedih yang ada di hati Bunda makin membesar ketika ayah angkat Bunda terlibat narkoba. Ayah juga sering memarahi dan memukul Bunda hingga terluka…”
Kemudian Bunda terdiam sejenak, lalu melanjutkan, “Tetapi, ibu tiri Bunda sangat sayang pada Bunda. Ia sering mengobati luka Bunda. Pada umur 9 tahun, ayah meninggal. Pada saat umur Bunda 17 tahun, Laina menuduh Bunda adalah penyebab kematiannya karena Bunda sering membuatnya kesal. Bunda diusir dari rumah dengan berbekal sebongkah emas dari ibu tiri Bunda. Dari emas itu, Bunda membeli perhiasan yang banyak dan Bunda jual kembali. Lalu uangnya dipakai untuk berbagai keperluan dan untuk membeli emas lagi.”
“Semakin hari, Bunda menjadi kaya raya. Bunda menganggap semua penderitaan ini adalah pelajaran dari Allah agar Bunda menjadi manusia yang tidak mudah menyerah. Mengetahui Bunda sudah menjadi kaya, adik tiri Bunda datang meminjam satu miliar kepada Bunda karena perusahaan keluarga mereka bangkrut. Nah, lanjutannya Karin sudah tahu kan?”
“Iya, Bunda!” jawabku.
Hari ini aku mendapat dua pelajaran. Pertama, tentang makna shalat dan kedua tentang kehidupan Bunda. Ternyata Bunda lebih menderita daripada aku. Dan Bunda adalah orang hebat, karena bisa bangkit dari kesedihannya. Bunda, aku kagum padamu
Kembali ke kehidupanku sekarang.
Ah, terbaring lemah seperti ini membuatku sering mengenang saat-saat berhargaku. Sudah hampir satu bulan aku terkulai di rumah sakit. Aku menatap mata Bunda yang berwarna hitam kecoklatan. Kulihat jilbabnya serasi dalam paduan warna yang lembut, membuat tenang orang yang melihatnya.
Bunda sedang tersenyum memandangiku. Namun kutahu di wajahnya tersembunyi kesedihan. Aku ingat suatu saat diajak Bunda menonton film di bioskop.
Itu adalah kali pertama aku pergi ke sana. Aku senang… sekali bisa menonton film kartun yang seru. Namun sayang, kami harus duduk berjauhan karena tidak mendapatkan dua kursi kosong yang bersebelahan.
Aku juga ingat saat Bunda menolongku saat aku dalam kesulitan. Waktu itu aku sedang bertamasya di pinggir laut. Lalu aku nekad berenang dan hampir tenggelam terseret ombak.
Saat itu aku benar-benar takut! Tapi, sebelum aku terseret lebih jauh, Bunda berenang dan meraihku hingga aku selamat. Hihihi, ketauan deh kalau aku tidak bisa berenang.
Semua kenangan itu memberi warna hidupku. Aku tak akan melupakannya sampai kapan pun. Tak ada yang kukerjakan, aku membuka laci meja di samping tempat tidurku.
Kuangkat tumpukan barang yang ada di dalamnya, dan kutemukan sebuah album kecil dengan tulisan ‘My Story’ di sampul depannya. Karena penasaran, kubuka saja halaman pertamanya.
Kulihat ada foto Bunda saat masih kecil. Lucu sekali. Ada foto adik Bunda juga. Namun saat berfoto bersama, adik Bunda selalu cemberut. Kupandangi tiap lembarnya, sampai tiba-tiba terdengar sebuah lagu dari radio yang berjudul Bunda.
Kubuka album biru
Penuh debu dan usang
Kupandangi semua gambar diri
Kecil, bersih, belum ternoda
Pikirku pun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Tentang riwayatku
Kata mereka, diriku s’lalu dimanja
Kata mereka, diriku s’lalu ditimang
Nada-nada yang indah
S’lalu terurai darinya
Tangisan nakal dari bibirku
Takkan jadi deritanya
Tangan halus dan suci
T’lah mengangkat tubuh ini
Jiwa-raga dan seluruh hidup
Rela dia berikan
Kata mereka, diriku s’lalu dimanja
Kata mereka, diriku s’lalu ditimang
Oh, Bunda, ada dan tiada dirimu
‘Kan selalu ada di dalam hatiku
Pikirku pun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Tentang riwayatku
Kata mereka, diriku s’lalu dimanja
Kata mereka, diriku s’lalu ditimang
Oh, Bunda, ada dan tiada dirimu
‘Kan selalu ada di dalam hatiku
Mendengar tiap bait lagu itu, aku jadi tambah teringat semua kenanganku bersama Bunda. Dan tanpa disadari, air mataku menetes.
****
Mentari tampak menyinari dunia. Namun, keadaanku tidak secerah mentari. Badanku meriang dan tubuhku pegal-pegal. Bunda memberikanku secangkir teh hangat.
“Makasih, Bunda,” kataku.
Kutatap Bunda lama sekali. Ya Allah… rasanya lemah sekali tubuh ini. Apakah… sudah saatnya aku berpisah dengan Bunda?
Tiba-tiba…
Oh, tidak, sakit sekali dada ini. Napasku berat. Kulihat Bunda menangis sambil berteriak memanggil-manggil dokter.
“Bertahan, Nak…,” kata Bunda sambil sesenggukan. “Dokter…!!!”
“Bunda…,” kataku pelan.
Kulihat wajah Bunda untuk terakhir kalinya sampai hilang dari pengelihatanku. Menyayangimu, Bidadari Duniaku…
Selamat tinggal, Bunda… Aku menyayangimu, Bidadari Duniaku….
Tamat
Fauziah Heriyansyah adalah Alumnus SMA Negeri 1 Toboali tahun 2024, sekarang Mahasiswa Jurusan Hukum Universitas Bangka Belitung.
