Saat ia menjadi Sekda Kabupaten Bangka, Tarmizi Saat alias Bujoi semakin dikenal luas masyarakat. Panggilan “Pak Sekda” sangat melekat dalam dirinya. Saya rasa tidak ada semelekat itu nama jabatan pada diri seseorang selain Bujoi. Ia rutin mengudara di RRI mendengar langsung keluhan masyarakat Bangka dan menyelesaikannya.

Gaya komunikasinya yang sangat kampung dan ciri khas ketawa ngakak menjadi salah satu yang sangat disukai oleh masyarakat. Sosok bersahaja ini tak jarang pada sore hari menggunakan sepeda motor di Kota Sungailiat walau dirinya sudah menjabat sebagai Bupati Bangka (periode 2013– 2018).

Bujoi tidak berubah, ia tetaplah orang yang bersahaja walau pangkat tinggi melekat dipundaknya.

Karena mungkin berasal dari Desa Kemuja yang dikenal sebagai Desa Santri, berasal dari keturunan yang agamis, Tarmizi Saat alias Bujoi tidak meninggalkan kesantriannya. Walau sudah menjadi sekda maupun bupati, ia kerapkali mengumandangkan azan di masjid-masjid, terutama di masjid dekat rumahnya maupun Masjid Agung Sungailiat.

Kepeduliannya pada syiar agama, tidak hanya saat menjabat, tapi hingga akhir hayat. Sebagai Ketua Pembina Yayasan Pondok Pesantren Al-Islam Kemuja, Tarmizi Saat alias Bujoi sangat aktif dalam rapat maupun menyelesaikan persoalan dan berusaha maksimal dalam perkembangan untuk memajukan Pondok Pesantren yang didirikan oleh para alim ulama terdahulu di Desa Kemuja.

Baca Juga  DPRD Babel Beri Penghormatan Terakhir ke Almarhum Tarmizi Saat

Dalam perjalanan politik, saya yang baru seumur jagung kerapkali bahkan selalu berbeda dengan Bujoi. Dari luar kami terlihat tidak akrab bahkan dianggap banyak orang berseberangan, padahal komunikasi dan bertemu cukup intens walau hanya sebentar-sebentar alias tidak pernah lama.

Saya hanya intens bertemu dan diskusi dengan Bujoi saat ia meminta saya menulis buku biografinya yang saya beri judul “Tarmizi Saat: Santri Birokrat”. Setelah itu saya memang belajar “berseberangan” untuk mendapatkan jejak yang lebih mendalam terhadap Bujoi. Karena dalam pemahaman saya, belajar dari seseorang itu harus melulu mengakrabkan diri, tapi bisa melalui jalur seakan-akan “berseberangan”.

Terakhir kami diskusi lama dan cukup panjang saat sama-sama berangkat ke Jogjakarta pada akhir Desember 2024. Diskusi empat mata antara saya dengan Bujoi cukup serius berkaitan dengan banyak hal, terutama perkembangan Kabupaten Bangka yang penuh persoalan, Yayasan Lembaga Kesejahteraan Desa (LKD), persoalan pemerintahan Desa Kemuja dan juga Pondok Pesantren Al-Islam.

Baca Juga  Innalillahi, Mantan Bupati Bangka H Tarmizi Saat Tutup Usia

Sebagaimana biasa, saya selalu selenge’an kalau sudah berhadapan dengan sosok teladan masyarakat kampung ini. “Kan agik ade Pok, santai bae lah…” biasanya saya jawab demikian. Tarmizi Saat alias Bujoi selalu meminta saya turun tangan untuk banyak hal, terutama persoalan di Desa Kemuja, namun selalu saya bantah bahwa masih ada beliau. Bagi saya pribadi, belum ada sosok tempat mengadu masyarakat Desa Kemuja yang paling tepat kecuali Bujoi alias Tarmizi Saat.

Hari Jumat ba’da Ashar, 28 Februari 2025, tepat akhir Sya’ban, awal Ramadhan, Tarmizi Saat tercinta dan dicintai semua masyarakat, terutama masyarakat kampung menghembuskan napas terakhirnya dengan meninggalkan kenangan dan jejak kebaikan yang membuat semua orang kehilangan.

Tidak hanya keluarga besar saja, sosok H. Tarmizi Saat alias Bujoi meninggalkan banyak kenangan dan cerita indah bagi masyarakat Kabupaten Bangka, bahkan Bangka Belitung. Sosok orang kampung yang benar-benar menjadi teladan dan tidak meninggalkan akarnya sebagai orang kampung.

Baca Juga  Secangkir Kopi, Seruputan Penuh Arti dengan Diksi yang Menginspirasi

Setelah kepergian sang tokoh teladan ini, sulit rasanya mencari padanan atau pengganti Tarmizi Saat alias Bujoi, terutama bagi masyarakat Desa Kemuja. Banyak tokoh, banyak yang bertitel, banyak yang jadi pejabat, banyak yang jadi ulama, banyak yang menjadi orang hebat, tapi…., belum ada yang sepadanannya sama dengan Bujoi yang memiliki kepedulian tinggi terhadap kampung kelahirannya.

Ia terbukti menjadi tempat mengadu semua orang, semua kegiatan, semua persoalan, dari rumah tangga, masjid, pesantren, desa, pekerjaan, ekonomi, dan lain sebagainya.

Selama jalan, Pamanda Tarmizi Saat…. insyaallah keberkahan Ramadan telah engkau raih di sorga… kami bersaksi, engkau orang baik dan banyak membantu masyarakat kampung. Tak terasa air mata ini menetes kala merangkai kata tentang Bujoi yang begitu peduli dan menjadi tempat kami semua mengadu.

Salam Cinta!

Pundok Kebun, 02 Ramadhan 1446 H.

========

Ahmadi Sofyan, populer dengan nama Atok Kulop. Disebut sebagai budayawan atau pemerhati sosial masyarakat di Bangka Belitung yang akhir-akhir ini banyak menghabiskan waktunya di kebun tepi sungai di Desa Kemuja.