Oleh: Erik Juliawan, S.Sos

Sejarah menceritakan ada banyak pahlawan di negara Indonesia yang luar biasa hebat dan menginspirasi.

Mereka telah berkorban sepenuhnya untuk kemerdekaan Republik Indonesia.

Untuk itu, penting bagi setiap penduduk di Indonesia, baik itu pemerintah hingga generasi muda penerus bangsa agar selalu mengingat semangat juang dan pantang menyerah para pahlawan.

Selain itu, kepribadian para pahlawan juga dapat dijadikan sebagai pelajaran serta suri tauladan berharga di era sekarang dalam menjalani kehidupan dengan penuh semangat perjuangan.

Salah satu figur yang tidak dapat dilupakan dalam sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, ialah Jenderal Soedirman.

Jenderal Soedirman merupakan salah satu pahlawan nasional Indonesia, yang mempunyai jiwa kepemimpinan dan keberanian tinggi, pada saat berjuang dalam mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajah.

Hal itu terbukti dengan beberapa di antara keberhasilan beliau yang diceritakan dalam sejarah yakni:

Baca Juga  Implementasi Panca Cinta dalam Proses Pembelajaran

pertama, berhasil mengambil atau merampas senjata dari genggaman Jepang dalam jumlah sangat besar di Banyumas tanpa adanya pertumpahan darah.

Kedua, berhasil dalam mengkoordinir penyerangan terhadap sekutu sehingga musuh tersebut meninggalkan Ambarawa.

Ketiga, berhasil memimpin perang gerilya dari atas tandu walau bertahan dengan satu paru-paru hingga berakhirnya perang kemerdekaan.

Dikutip dari Jurnal HISTORIA Volume 6, Nomor 1, Tahun 2018, e-ISSN 2442-8728 yang ditulis oleh Agus Susilo, seorang Dosen Pendidikan Sejarah STKIP PGRI Lubuklinggau, dengan judul Sejarah Perjuangan Jenderal Soedirman Dalam Mempertahankan Indonesia (1945-1950).

Pada 29 September 1945 tentara sekutu yang ditugaskan untuk menduduki wilayah Indonesia dan melucuti tentara-tentara Jepang tiba di Jakarta.

Kedatangan sekutu semula disambut dengan tangan terbuka. Namun ketika diketahui bahwa pasukan Sekutu diboncengi oleh Netherlands Indies Civil Administration atau Pemerintahan Sipil Belanda (NICA) yang akan menguasai wilayah Indonesia, sikap Indonesia mulai curiga dan waspada.

Baca Juga  THR, Kompensasi yang Tak Memberi Arti

Berbagai upaya, bangsa Indonesia tetap mempertahankan kemerdekaan rakyat Indonesia bangkit melawan tentara Sekutu dan NICA.

Akibatnya berkobarlah pertempuran di berbagai daerah Indonesia, salah satunya Ambarawa merupakan jalur utama yang menghubungkan antara Semarang, Mangelang menuju Yogyakarta.

Meskipun kota kecil, namun para pejuang di Ambarawa mampu mengusir sekutu mundur.

Kemenangan yang diperoleh Ambarawa tidak lepas dari tokoh yang bernama Jenderal Soedirman.

Soedirman mempunyai sifat peduli terhadap pendidikan, nasionalisme, keislaman, dan bakat dalam hal militer.

Soedirman juga dikenal sebagai orang yang pantang menyerah, berwatak keras untuk menegakkan prinsip.

Kehadirannya di dunia militer mampu memberi motivasi yang tinggi bagi pasukan Indonesia yang berjuang mempertahankan kemerdekaan.

Jenderal Soedirman dikenal sebagai guru yang tertib, disiplin, dan bertanggung jawab.

Baca Juga  Ruang Anak Kini Tak Aman Lagi, Praktik Pelecehan Seksual Mengancam Anak-Anak di Bangka Belitung

Mengingat prestasi, penampilan, wawasan, dan kepemimpinannya, maka Soedirman dipilih sebagai Kepala Sekolah di H.I.S (Hollandsch-Inlandsche School) Muhammadiyah.

Soedirman menjadi kepala sekolah yang moderat, demokratis, dan akomodatif.

Inilah Soedirman sebagai guru yang teladan. Beliau selalu memegang prinsip kepemimpinannya yaitu ing ngarso sung tulandha, ing madya mangun karsa, dan tut wuri handayani.

Artinya “Di depan memberi contoh, ditengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan.”

Selain itu, usia Soedirman yang relatif muda 29 tahun terpilih menjadi Panglima Besar, merupakan suatu aset dalam menghadapi para panglima bawahannya yang rata-rata berusia muda dan bersikap emosional.

Soedirman merupakan sosok yang bisa menenangkan dan menstabilkan mereka.

Dalam catatan Nasution, Jenderal Soedirman terpilih karena Tentara Keamanan Rakyat (TKR) saat itu didominasi alumni Pembela Tanah Air (PETA), selain unsur KNIL, Heiho, dan pemuda.