Koloni di Rawa Ambisi
Karya: Abu Khalid
Di rawa yang menguap, air tergenang.
Cermin retak ambisi yang mengerak,
kodok-kodok bersepakat:
“Kaki harus serempak, singkirkan rintangan!”
Mereka menyibak lumut, mengusir kumbang,
menjaga koloni agar tak tersaingi.
Di darat, kaki-kaki itu berubah jadi tangga:
Menumpuk tubuh, menginjak sisik yang sama,
naik, meski punggung kawan berderak.
Puncak adalah altar yang meminta korban
setiap lompatan meninggalkan jejak lumpur,
setiap dengus mengikis bahasa empati.
Mereka menyebutnya “kesuksesan”
Padang tandus dibawah topeng riak,
dimana yang tersisa hanyalah bayangan:
Kepak sayap capung yang mati muda,
akar terkelupas dari tanahnya sendiri.
Halaman
