10 Malam Terakhir: Antara Ibadah, Hura-hura, dan Perpisahan dengan Ramadan
Seolah-olah, semangat Ramadan mulai tergantikan oleh euforia lebaran. Malam-malam yang seharusnya diisi dengan ibadah justru dihabiskan di pasar malam, di pusat perbelanjaan, atau sekadar bersenang-senang.
Padahal, yang paling penting bukanlah perayaan lebaran itu sendiri, tetapi bagaimana kita mengakhiri Ramadan dengan sebaik-baiknya.
Lalu, saat takbir Idulfitri berkumandang, baru kita tersadar—Ramadan telah pergi. Kesedihan muncul, mengingat betapa singkatnya waktu yang telah berlalu. Pertanyaannya, apakah kita benar-benar memanfaatkan Ramadan dengan baik? Ataukah kita terlalu sibuk dengan persiapan lebaran hingga lupa bahwa bulan ini adalah momen untuk memperbaiki diri?
Ramadan bukan sekadar bulan puasa dan lebaran bukan hanya tentang perayaan tetapi Ramadan adalah kesempatan untuk membentuk kebiasaan baik yang harus terus kita jaga sepanjang tahun. Jangan sampai Ramadan pergi tanpa meninggalkan perubahan dalam diri kita.
Mari manfaatkan sisa waktu yang ada. Jadikan 10 malam terakhir ini sebagai puncak ibadah kita, bukan sekadar waktu untuk bersiap menyambut lebaran. Karena sejatinya, perpisahan dengan Ramadan bukanlah akhir, tetapi awal dari perjalanan menjaga ketakwaan di bulan-bulan berikutnya.
Penulis merupakan Kader BKPRMI Kabupaten Bangka.
