5 Korban TPPO asal Bateng Bertemu Bupati, Ternyata Diiming Gaji yang Besar
Ia juga mengungkapkan masih ada lima pekerja migran non prosedural asal Bangka Tengah lain yang belum pulang ke Indonesia dan pemerintah daerah siap membantu kepulangan mereka.
“Untuk lima orang yang belum pulang, kami sudah menghubungi pihak orang tua dan masih menunggu informasi dari anak-anak mereka. Kami tetap siap untuk membantu dan mendukung ke lima orang tersebut yang mau kembali ke Indonesia,” tutur Algafry.
Sementara itu, Salah satu korban TPPO Myanmar Ridal Ramadani (28) menjelaskan iming-iming gaji yang besar menjadi alasan dari warga Bangka Tengah nekat berangkat ke Myanmar.
“Selain ajakan dan gaji yang lumayan besar, proses pergi kesana itu gratis mulai dari transportasi, biaya makan hingga penginapan, semuanya ditanggung dan perbandingannya dengan gaji di daerah kita, bekerja 5 – 6 bulan pun belum tentu bisa mendapat gaji sebesar itu,” kata Ridal.
Ia juga mengaku hanya bisa bersyukur karena bisa kembali pulang ke rumah dikarenakan tekanan dan pekerjaan yang tidak baik selama di sana yakni sebagai scammer serta perjudian online. Ia pun berpesan kepada masyarakat lainnya agar kejadikan ini dapat dijadikan sebagai pembelajaran.
“Perasaan bisa kembali ke sini itu tidak bisa digambarkan dengan kata-kata, hanya bisa bersyukur, karena bagi kami di sana diibaratkan seperti hidup dan mati. Dan buat kami pribadi serta masyarakat lainnya ini jadi pembelajaran yang sangat berharga sehingga jika mau keluar negeri dengan iming-iming pekerjaan atau gaji yang besar, lebih baik cari informasi lebih lanjut dan resmi. Cukup kami saja yang sudah tertipu dan mengadu nasib seperti ini,” terangnya.
Tak hanya itu, Ridal juga mengungkapkan rasa terima kasih atas bantuan dan kepedulian yang telah diberikan oleh Pemerintah Daerah Bangka Tengah.
“Terima kasih atas bantuan yang telah diberikan kepada kami baik itu dukungan dalam bentuk moral, moril, dan lainnya. Kami sangat senang dan terbantu,” ungkapnya
