Bak Jamur Tiram
Agenda berikutnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan maka harus menyelenggarakan Pemilihan Umum Kepala Daerah ulang yang diagendakan pada 27 Agustus 2025 setelah peringatan hari Proklamasi ke-80
Dua daerah inipun yaitu Kabupaten Bangka dan Kota Pangkalpinang dengan berbagai upaya efisiensi anggaran di tengah-tengah kondisi APBD yang sedang tidak baik-baik saja.
Bahkan memohon bantuan keuangan kepada Pemerintah Provinsi kepulauan Bangka Belitung agar dapat membiayai pelaksanaan Pemilukada sehingga terpilih kepala daerah yang defenitif hasil dari pesta demokrasi.
Kasak kusuk bakal calonpun bermunculan mulai dari wajah-wajah baru yang kemarin tidak berani mencalonkan diri melawan petahana dengan berbagai alasan dan pertimbangan, sekarang nampaknya mulai pasang badan dengan berbagai visi dan misi yang mungkin saja sudah disiapkan dalam suatu naskah yang tadinya masih sebatas konsep (pemikiran).
Sejauh mana visi dan misi tersebut dapat dijual sebagai adu program masing-masing untuk membawa daerah ini menjadi apa dan bagaimana 5 tahun ke depan.
Adalah masyarakat yang memiliki hak pilih tentunya akan menimbang-nimbang, memperhatikan dan pada akhirnya menetapkan siapa yang layak untuk dipilih yang akan menakhodai Kabupaten Bangka dan Kota Pangkalpinang dalam lautan badai rendahnya pertumbuhan ekonomi di masing-masing daerah.
Berkaca dari Pemilukada yang lalu khususnya di Kabupaten Bangka, kemenangan kotak kosong yang di luar prediksi berhasil memperoleh suara dengan prosentase sebesar 57,25 persen dan 42,75 persen untuk prosentase petahana.
Secara hitung-hitungan di atas kertas angka 42,75 persen suara petahana merupakan pemilih yang secara militan sebagai pendukung petahana.
Namun perlu dicermati dan berhati-hati, jikalau petahana akan bertarung kembali di kancah Pilkada 27 Agustus 2025 mendatang, angka tersebut bisa saja berubah dan bergeser seiring dengan dinamika yang terjadi dalam satu tahun setelah Pilkada serentak kemarin.
Munculnya bakal-bakal calon yang baru bisa jadi akan pula merubah angka tersebut seiring dinamika dan pandangan serta nilai rasa, pola pikir masyarakat terhadap suasana yang timbul juga bisa menjadi faktor penyebab berubahnya selera dari para pemilih.
